Obral obligasi Jepang guncang pasar, risiko repatriasi dana membayang
Senin, 26 Januari 2026

JAKARTA - Pasar keuangan global diguncang oleh aksi jual tajam obligasi pemerintah Jepang (JGB) yang mendorong imbal hasil ke level tertinggi dalam beberapa dekade, memicu kekhawatiran risiko sistemik senilai hingga US$7 triliun.
Kejatuhan ini terjadi menjelang pemilu dadakan 8 Februari yang diumumkan Perdana Menteri Sanae Takaichi, di tengah agenda stimulus fiskal agresif dan tekanan inflasi yang kian mengakar.
Dikutip bloomberg.com, imbal hasil obligasi tenor panjang melonjak drastis, dengan JGB 40 tahun menembus 4% dan obligasi 30 tahun melonjak lebih dari seperempat poin persentase hanya dalam satu sesi.
“Ini era baru,” kata Masayuki Koguchi dari Mitsubishi UFJ Asset Management.
“Saya rasa imbal hasil Jepang belum cukup tinggi. Ini baru permulaan ada kemungkinan guncangan yang lebih besar.”
Aksi jual ini menegaskan berakhirnya era stabilitas ekstrem pasar obligasi Jepang yang selama puluhan tahun menjadi jangkar global.
Guncangan di Tokyo dengan cepat merembet ke pasar internasional. Obligasi AS ikut tertekan, dan Kementerian Keuangan AS mengonfirmasi dampaknya telah terasa di pasar Amerika.
Analisis Goldman Sachs menunjukkan setiap 10 basis poin guncangan idiosinkratik (spesifik) pada JGB dapat mendorong kenaikan 2–3 basis poin imbal hasil di AS dan negara maju lainnya.
“Jika yen jatuh tajam, Jepang harus mempertahankannya, dan tuas tercepat adalah menjual cadangan, termasuk US Treasury,” ujar Anthony Doyle dari Pinnacle Investment Management.
Ketidakstabilan juga tercermin di pasar valuta asing, dengan yen berfluktuasi tajam seiring spekulasi intervensi pemerintah dan bank sentral. Bank of Japan (BOJ) membuka peluang pembelian obligasi untuk menenangkan pasar, namun langkah tersebut justru menyoroti dilema kebijakan antara stabilitas pasar dan kredibilitas fiskal.
“Situasi fiskal menimbulkan masalah kredibilitas,” kata Shinji Kunibe dari Sumitomo Mitsui DS Asset Management.
Dalam jangka menengah, kekhawatiran terbesar investor global adalah potensi repatriasi dana Jepang dari luar negeri seiring naiknya imbal hasil domestik. Sekitar US$5 triliun dana Jepang saat ini ditempatkan di luar negeri.
“Gajah di ruangan bagi pasar global adalah arus repatriasi,” kata James Athey dari Marlborough Investment Management, seraya memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga Jepang juga dapat mengguncang carry trade global yang selama ini bergantung pada yen murah.
Maksudnya adalah, risiko besar yang belum sepenuhnya diperhitungkan pasar global adalah kemungkinan dana besar milik investor Jepang ditarik pulang ke Jepang. (DH)