Ringgit dan saham Malaysia cetak rekor, rupiah dan IHSG lesu
Senin, 26 Januari 2026
JAKARTA – Nilai tukar ringgit Malaysia mencetak rekor tertinggi baru untuk tujuh tahun terakhir, didukung sentimen positif dari sektor teknologi dan prospek ekonomi yang positif.
Ringgit Malaysia menguat 0,95% dan kini diperdagangkan di US$3,96 per dolar Amerika Serikat (AS) menurut data Bloomberg hingga pukul 16.00 WIB hari ini. Kenaikan ringgit terhadap dolar AS pun mencapai 2,19% sejak awal tahun.
Sementara indeks KLCI yang menjadi acuan saham Malaysia naik 1,40% hingga penutupan perdagangan hari ini. Kenaikan KLCI sejak awal tahun pun telah mencapai 3,82%.
Riset Goldman Sachs menyebut ekspor teknologi, penanaman modal asing, dan kebijakan bank sentral Malaysia menjadi penopang ringgit ke level tertingginya sejak 2018.
Sementara Kepala Divisi Perdagangan Maybank Sekuritas, Tareck Horchani, mengatakan prospek fiskal dan pertumbuhan ekonomi yang stabil membuat Malaysia jadi destinasi investasi utama.
“Khususnya investasi di sektor infrastruktur, jasa keuangan, dan energi terbarukan,” kata Horchani, seperti dilansir Bloomberg.
Berbanding terbalik dengan Malaysia, kinerja mata uang dan pasar saham Indonesia bergerak terbatas dan cenderung melemah.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis 0,27% pada perdagangan Senin (26/1) hari ini, setelah turun lebih dari 1,3% dalam sepekan kemarin. Kenaikan IHSG sejak awal tahun pun masih di bawah KLCI, yaitu di level 2,56%.
Analis Phintraco Sekuritas menilai IHSG cenderung bergerak sideways pada perdagangan hari ini, karena pasar mengantisipasi pengumuman MSCI terkait penghitungan free-float. Selain itu, indikator Stochastic RSI pada IHSG juga berada di area oversold dan belum menunjukkan indikasi reversal.
Sedangkan rupiah menguat tipis 0,23% pada perdagangan hari ini ke level Rp16.782 per dolar AS, namun masih mencatat pelemahan 2,56% sejak awal tahun dan hampir menyentuh Rp17.000 per dolar AS pada pekan lalu. (KR)