Iran siapkan arsneal rudal anti-kapal skala besar
Selasa, 27 Januari 2026

JAKARTA - Iran terus memperkuat kemampuan militernya di laut dengan membangun arsenal rudal anti-kapal dalam skala besar. Persenjataan ini dirancang untuk menargetkan kapal induk, kapal perusak, serta armada laut modern yang beroperasi di kawasan Teluk dan sekitarnya.
Arsenal tersebut mencakup kombinasi rudal balistik dan rudal jelajah. Rudal balistik menyerang dari ketinggian dengan kecepatan sangat tinggi, sementara rudal jelajah terbang rendah di atas permukaan laut guna menghindari deteksi radar.
Dikutip wionews.com, pendekatan ini mencerminkan doktrin perang laut asimetris Teheran untuk menandingi keunggulan teknologi dan jumlah armada Amerika Serikat.
Salah satu senjata utama adalah Khalij Fars, rudal balistik anti-kapal berbahan bakar padat dengan jangkauan sekitar 300 kilometer. Dengan kecepatan Mach 3 hingga Mach 4 dan hulu ledak 650 kilogram, rudal ini dirancang untuk menimbulkan kerusakan besar pada kapal perang berukuran besar.
Iran juga mengandalkan Zolfaghar Basir, rudal balistik dengan jangkauan lebih jauh hingga 700 kilometer. Dilengkapi kepala pencari optik, sistem ini mampu menghantam target laut yang bergerak dengan tingkat presisi lebih tinggi. Peluncurnya yang bersifat mobile menambah kesulitan bagi lawan untuk mendeteksi dan menghancurkannya sebelum digunakan.
Di kategori rudal jelajah jarak jauh, Abu Mahdi menjadi ancaman signifikan dengan jangkauan lebih dari 1.000 kilometer. Rudal ini dirancang terbang rendah dan mampu mengubah lintasan secara adaptif, memungkinkan Iran mengancam target laut jauh di luar wilayah Teluk Persia.
Untuk pertahanan pantai, Iran mengandalkan Noor dan Qader sebagai tulang punggung sistem rudal anti-kapalnya. Dengan jangkauan masing-masing sekitar 120 kilometer dan 300 kilometer, kedua sistem ini dapat diluncurkan dari kendaraan darat maupun kapal kecil, dan menggunakan pemandu radar pada fase akhir serangan.
Selain itu, Iran mengintegrasikan rudal jarak pendek ke dalam armada kapal serang cepat dan speedboat. Taktik ini memungkinkan serangan dari berbagai arah secara simultan, bertujuan membanjiri dan melemahkan sistem pertahanan kapal perang modern melalui jumlah tembakan yang masif.
Kombinasi rudal supersonik dan subsonik memperlihatkan pendekatan berlapis dalam menghadapi pertahanan lawan. Rudal balistik mengandalkan kecepatan dan energi kinetik, sementara rudal jelajah memanfaatkan ketinggian terbang yang sangat rendah untuk menghindari radar.
Seluruh sistem ini memberi Iran kemampuan nyata untuk mengancam jalur pelayaran strategis, khususnya Selat Hormuz, yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Dengan peluncur bergerak yang ditempatkan di garis pantai dan pulau-pulau strategis, Teheran berpotensi menciptakan zona berisiko tinggi bagi kapal militer maupun komersial yang melintas di kawasan tersebut.(DH)