Gugus tempur USS Abraham Lincoln sudah masuk perairan Timur Tengah
Selasa, 27 Januari 2026

JAKARTA - Gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln telah memasuki wilayah operasi Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) di kawasan perairan Timur Tengah setelah dikerahkan dari kawasan Asia-Pasifik awal bulan ini.
Pengerahan tersebut terjadi seiring memburuknya hubungan Washington–Teheran menyusul penindakan keras aparat Iran terhadap gelombang protes di dalam negeri. Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta sejumlah kapal perusak berpemandu rudal ke kawasan tersebut.
Dua pejabat AS mengatakan kepada Reuters, langkah ini memperluas opsi Presiden Donald Trump untuk melindungi pasukan Amerika atau melakukan tindakan militer terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Trump sebelumnya menyatakan Amerika Serikat memiliki sebuah “armada” yang bergerak menuju Iran, meski ia berharap kekuatan itu tidak perlu digunakan. Ia juga sempat mengancam akan melakukan intervensi jika penindasan terhadap pengunjuk rasa terus berlanjut. Namun, menurut Trump, situasi di lapangan belakangan menunjukkan eskalasi kekerasan mulai menurun dan belum ada rencana eksekusi terhadap para tahanan.
Selain pengerahan kapal induk, Pentagon turut memindahkan jet tempur serta sistem pertahanan udara ke Timur Tengah. Militer AS juga mengumumkan rencana latihan kawasan untuk menunjukkan kemampuan mengerahkan, menyebar, dan mempertahankan kekuatan udara tempur.
Langkah ini memperkuat sinyal kesiapsiagaan Washington menghadapi skenario terburuk.
Meski kerap menyatakan pengerahan pasukan di kawasan bersifat defensif, AS pernah melakukan penumpukan kekuatan besar tahun lalu menjelang serangan terhadap program nuklir Iran pada Juni. Situasi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran akan konfrontasi terbuka.
Dari pihak Iran, seorang pejabat senior memperingatkan bahwa Teheran akan menganggap setiap serangan sebagai perang habis-habisan. Pernyataan itu menegaskan kesiapan Iran untuk membalas jika eskalasi berujung konflik militer langsung. (DH)