Realitas baru Uni Eropa: Sepekan ketika ikatan transatlantik retak
Selasa, 27 Januari 2026

BRUSSELS - Presiden Amerika Donald Trump hanya butuh enam hari untuk membangun tatanan dunia baru. Pada hari ketujuh, para sekutu lamanya di Eropa mungkin berharap ia berhenti sejenak.
Sejak melontarkan ancaman tarif demi merebut Greenland Sabtu lalu, perilaku Trump yang menabrak tabu membuat Barat sadar bahwa norma-norma lama tatanan dunia telah disingkirkan.
Seperti dikutip cnn.com, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyebutnya sebagai sebuah ruptura, bukan transisi.
[[ Ruptura : pemutusan mendadak dan radikal dari tatanan lama, bukan perubahan bertahap atau penyesuaian halus. ]]
Yang muncul kemudian adalah arena global yang lebih keras dan tanpa aturan, tempat yang paling keras dan kuat menang. Salah satu pilar dunia lama, kepercayaan transatlantik yang selama ini dianggap tak tergoyahkan, runtuh.
Trump sebenarnya sudah menyatakan minatnya pada wilayah es milik Denmark itu sejak 2019. Namun, eskalasi ancaman dan intimidasi terhadap sesama anggota NATO dalam sepekan terakhir benar-benar mengejutkan Eropa.
“Dengan cara apa pun, kita akan mendapatkan Greenland,” ujar Trump, bahkan jika harus melakukannya dengan cara keras.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan pekan itu dibuka dengan eskalasi berupa ancaman invasi dan tarif.
Hal-hal yang sebelumnya nyaris tak terpikirkan kini menjadi kenyataan. Perdana Menteri Polandia Donald Tusk bahkan menggunakan istilah “appeasement”, kata yang sarat trauma sejarah Eropa, sambil menegaskan bahwa Eropa tak boleh lemah, baik terhadap musuh maupun sekutu.
“Ini adalah realitas baru yang tercipta, dan sangat volatil,” kata seorang diplomat senior Uni Eropa, merujuk pada retorika pemerintahan AS yang sangat tidak lazim.
Sejak Januari lalu, Trump terus meregangkan hubungan dengan Eropa. Ia kerap terdengar sejalan dengan narasi Presiden Rusia Vladimir Putin, menghentikan bantuan untuk Ukraina, garis depan Eropa melawan Moskow, memberlakukan tarif pada mitra dekat, serta melontarkan hinaan baik secara daring maupun langsung.
Usai pertemuan larut malam para pemimpin Uni Eropa, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menegaskan bahwa seluruh pihak sepakat hubungan dengan mitra harus dijalankan secara santun dan saling menghormati.
Namun, kesadaran pahit mulai menguat: Amerika Serikat bukan lagi sahabat dan sekutu tepercaya seperti dahulu.
Bagi sebagian pihak, sinyal ini sudah lama terlihat sejak hari-hari awal pemerintahan Trump terbaru. “Hubungan transatlantik jelas menerima pukulan besar dalam sepekan terakhir,” kata Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Kaja Kallas.
Mantan Presiden Dewan Eropa Charles Michel bahkan lebih tegas, menyebut hubungan transatlantik sebagaimana kita kenal selama puluhan tahun telah mati.
Setelah setahun Trump memperlakukan sekutu Eropa dengan sikap meremehkan, ancaman terhadap Greenland menjadi jawaban paling gamblang tentang seberapa rapuh ikatan lama itu kini. (DK)
Baca: Uni Eropa mulai hindari ketergantungan terhadap teknologi AS