Emas naik ke US$5.100, isu geopolitik dorong investor ke aset aman
Selasa, 27 Januari 2026

JAKARTA - Harga emas mencetak rekor baru di atas US$5.100 per ons, didorong lonjakan permintaan aset aman saat ketegangan geopolitik global meningkat.
Reli kenaikan harga emas juga menyeret perak dan platinum ke level tertinggi sepanjang masa, menandai penguatan serentak di pasar logam mulia.
Dikutip reuters, kenaikan harga emas didukung kombinasi ketidakpastian politik internasional, pembelian agresif bank sentral, serta kembalinya arus dana ke ETF berbasis emas fisik.
“Harga emas terus mendapat dukungan dari ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang tinggi. Bank sentral tetap menjadi pembeli kuat karena mereka mendiversifikasi cadangan devisa dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS,” ujar Ryan McIntyre, Presiden Sprott Inc.
Baru-baru ini, Amerika Serikat (AS) mengancam akan mengenakan tarif 100% terhadap Kanada, jika melanjutkan kesepakatan dagang dengan China.
“Untuk pasar logam mulia tahun ini, pendorong utamanya adalah ‘Trump dan Trump’,” kata Adrian Ash, Kepala Riset BullionVault.
Di sisi lain, kata Ash, gelombang investor baru yang masuk pertama kali ikut mendorong pergerakan harga logam mulia.
“Pergerakan ini dipimpin oleh investor ritel di Asia dan Eropa yang berlomba menambah kepemilikan emas dan perak pribadi mereka,” kata Ash.
Selain geopolitik, fokus investor juga tertuju pada potensi intervensi mata uang oleh otoritas AS dan Jepang, serta tekanan politik terhadap Federal Reserve yang akan menggelar pertemuan pekan ini. Tekanan pemerintah AS untuk menurunkan suku bunga The Fed, berpotensi menopang harga emas.
Sepanjang tahun ini, harga emas telah naik hampir 18%, setelah melonjak 64% sepanjang 202.
Analis menilai reli emas belum berakhir. Societe Generale memperkirakan emas bisa mencapai US$6.000 per ons pada akhir tahun, sementara Morgan Stanley menyebut reli dapat berlanjut dengan target skenario bullish di US$5.700.
Selain emas, harga perak mencetak rekor baru di atas US$117 per ons, dipicu pembelian ritel dan ketatnya pasar fisik. “Harga perak di China berada pada premi signifikan dibandingkan harga London, yang mengindikasikan potensi kenaikan lanjutan dalam jangka pendek. Namun, harga setinggi ini berpotensi menekan permintaan industri,” ujar analis UBS Giovanni Staunovo. (DH/KR)