Revolusi AI picu kecemasan dan 'kemarahan' pekerja
Selasa, 27 Januari 2026

JAKARTA – Kekhawatiran baru merebak di kalangan pemimpin bisnis Amerika Serikat seiring meningkatnya 'kemarahan' pekerja terhadap kecerdasan buatan (AI) yang dinilai mengancam keamanan kerja. Situasi ini muncul di tengah memburuknya kondisi pasar tenaga kerja, yang ditandai oleh kenaikan pengangguran dan stagnasi upah.
Dikutip dari futurism.com, meski perdebatan masih berlangsung mengenai sejauh mana AI secara langsung berkontribusi terhadap tekanan di pasar kerja, sentimen negatif di kalangan pekerja terus menguat. Banyak pekerja menilai adopsi AI telah memangkas peluang kerja sekaligus melemahkan posisi tawar mereka di hadapan perusahaan.
Kecemasan tersebut juga mencuat dalam forum internasional. Dalam pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) di Davos, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyebut AI sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi, namun sekaligus memperingatkan dampaknya terhadap ketenagakerjaan.
“Kami melihat potensi peningkatan pertumbuhan hingga 0,8 persen dalam beberapa tahun ke depan, tetapi ini menghantam pasar tenaga kerja seperti tsunami, dan sebagian besar negara serta pelaku usaha tidak siap menghadapinya,” ujar Georgieva.
Peringatan itu muncul setelah satu tahun yang diwarnai gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran dan perlambatan perekrutan. Sejumlah perusahaan teknologi raksasa secara terbuka mengaitkan langkah efisiensi mereka dengan percepatan adopsi AI. Salesforce, misalnya, memangkas ribuan pekerjaan di sektor layanan pelanggan, sementara Amazon mengurangi puluhan ribu karyawan kantor dalam restrukturisasi terbesar sepanjang sejarah perusahaan.
Di sisi lain, kemarahan publik terhadap AI kian terasa. Laporan Global Talent Trends 2026 yang dirilis perusahaan konsultan Mercer mencatat lonjakan signifikan kekhawatiran pekerja terhadap potensi kehilangan pekerjaan akibat penerapan AI. Persentase pekerja yang menyuarakan kecemasan tersebut meningkat tajam dalam dua tahun terakhir.
Laporan yang sama juga mengungkap adanya kesenjangan persepsi antara manajemen dan karyawan. Mayoritas pekerja menilai pimpinan perusahaan meremehkan dampak psikologis dan emosional dari penerapan AI, meskipun para eksekutif terus menggaungkan narasi revolusi teknologi dan efisiensi.
Kondisi ini menempatkan dunia usaha pada dilema. Di satu sisi, AI dipromosikan sebagai mesin pertumbuhan dan daya saing. Di sisi lain, resistensi sosial dari tenaga kerja berpotensi memicu tekanan politik, risiko reputasi, serta mengganggu stabilitas hubungan industrial di masa mendatang. (DH)