Apakah dolar akan kolaps? Peter Schiff soroti aksi de-dolarisasi BRICS
Selasa, 27 Januari 2026
JAKARTA – Ekonom Amerika Serikat Peter Schiff memperingatkan melemahnya ekonomi AS seiring melonjaknya harga emas dan perak ke level tertinggi sepanjang masa pada akhir pekan lalu.
Menurut Schiff, reli logam mulia tersebut mencerminkan pelemahan fundamental dolar AS, bukan sekadar spekulasi pasar.
Peter Schiff dikenal sebagai ekonom libertarian, pendukung kuat standar emas, serta kritikus kebijakan moneter bank sentral AS. Ia merupakan pendiri dan CEO Euro Pacific Capital, serta dikenal luas karena berhasil memprediksi krisis keuangan global 2008. Schiff juga vokal menentang utang pemerintah, pelonggaran moneter The Federal Reserve, dan skeptis terhadap aset kripto seperti Bitcoin.
“Trump mungkin berpikir ekonomi AS adalah yang terpanas di dunia, tapi pasar keuangan membuktikan itu justru yang terdingin,” tulis Schiff dalam pernyataannya pada Senin.
Dikutip dari ccn.com, Schiff mencatat harga emas telah menembus US$5.020 per ons, sementara perak melampaui US$104,65. Pada saat yang sama, dolar AS tertekan terhadap sejumlah mata uang utama, termasuk franc Swiss.
Ia memperingatkan bahwa pemegang aset berbasis dolar AS maupun mata uang kripto berpotensi mengalami kerugian signifikan dalam beberapa bulan ke depan. “Pada akhir tahun, pemegang aset bernilai dolar AS dan mata uang kripto, termasuk Bitcoin, akan secara substansial lebih miskin dibandingkan sekarang,” tulisnya.
Tekanan terhadap dolar kian meningkat seiring upaya de-dolarisasi oleh blok BRICS—Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan—bersama negara anggota baru seperti Mesir, Ethiopia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Kelompok ini berupaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS melalui penggunaan mata uang lokal serta pengembangan unit digital berbasis emas untuk penyelesaian perdagangan.
CEO Ubuntu Tribe, Mamadou Kwidjim Toure, menegaskan bahwa proses tersebut bersifat bertahap. “De-dolarisasi mungkin tidak terjadi dalam semalam, tetapi trajektori ini menunjukkan penyesuaian global yang gradual namun mendalam,” ujarnya.
Meski harga logam mulia melonjak tajam, sejumlah analis memperingatkan bahwa laju kenaikan tersebut sulit dipertahankan. Kepala Strategi BCA Research, Roukaya Ibrahim, menyebut secara teknikal pergerakan perak sudah berada di area rawan koreksi. “Secara riil, deviasi harga perak dari rata-rata pergerakan 200 hari mendekati level yang sebelumnya mendahului penurunan harga,” katanya. Penyesuaian permintaan juga mulai terlihat di sektor industri, terutama manufaktur panel surya, yang merupakan pengguna utama perak.
Schiff sendiri memprediksi krisis keuangan pada 2026 yang dinilainya akan lebih parah dibanding krisis 2008, meski tidak berskala global. “Seluruh dunia justru akan diuntungkan karena beban menopang ekonomi konsumen AS akan berkurang,” tulisnya.
Ia juga memberikan peringatan khusus kepada investor Bitcoin. “Ini akan sangat mengecewakan dan, sayangnya, bagi para HODLer Bitcoin—yang membeli Bitcoin untuk alasan yang sama seperti saya membeli emas dan perak—mereka justru akan kehilangan lebih banyak uang dibanding mereka yang sama sekali tidak mempersiapkan apa pun,” ujarnya. (DH)
Baca juga: Bos IMF Kristalina Georgieva bersiap hadapi global run dolar Amerika