Sesuai target, kredit BBCA tumbuh 7,7% di 2025

Selasa, 27 Januari 2026

image

JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melaporkan laba bersih konsolidasian tumbuh 4,93% secara tahunan pada tahun 2025 menjadi Rp57,54 triliun.

Di sisi lain, penyaluran kredit naik 7,71% menjadi Rp992,89 triliun pada akhir Desember 2025, masih sesuai target Perseroan untuk tahun 2025 di level 6-8%.

Kredit usaha masih menjadi komposisi kredit BBCA terbesar, naik 9,9% secara tahunan menjadi Rp756,5 triliun, disusul pembiayaan konsumen sebesar Rp224,1 triliun.

Jika dirinci lebih jauh, kredit konsumen BBCA di tahun 2025 masih didominasi penyaluran KPR hingga Rp142,3 triliun, kredit kendaraan bermotor (KKB) Rp56,6 triliun, dan kartu kredit Rp25,2 triliun.

Pertumbuhan kredit Perseroan diimbangi dengan NPL gross yang turun menjadi 1,71% untuk tahun 2025.

“Kualitas kredit BCA terjaga, tercermin dari rasio loan at risk (LAR) yang membaik ke 4,8% dibandingkan 5,3% pada tahun sebelumnya,” tambah manajemen dalam siaran resminya, Selasa (27/1).

Selain itu, seiring dengan kredit yang tumbuh, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga masih mampu tumbuh 10,2%, dan mencapai Rp1,25 kuadriliun per Desember 2025. Dengan demikian, rasio loan-to-deposit (LDR) sedikit merosot menjadi 76,75%.

Dari segi komposisi dana, simpanan di giro dan tabungan (CASA) naik 13,1% menjadi Rp1,05 kuadriliun, atau mewakili sekitar 83,67% dari DPK.

Total frekuensi transaksi BCA pada 2025 juga naik 17% mencapai 42 miliar. Frekuensi transaksi digital melalui mobile banking dan internet banking bahkan tumbu lebih pesat hingga 19%.

“Pada puncaknya, BCA pernah memproses transaksi hingga hampir 300 juta dalam satu hari,” ungkap manajemen lebih lanjut.

Hingga akhir Desember 2025, total aset BBCA mencapai Rp1,6 kuadriliun, tumbuh 9,5% secara tahunan, dengan ekuitas tercatat sebesar Rp281,69 triliun.

“Dukungan besar dari pemerintah dan otoritas membantu kami melewati 2025 dan menorehkan kinerja positif,” ujar Presiden Direktur BBCA Hendra Lembong.

Di sisi lain, harga saham BBCA hari ini ditutup melemah 1,96% di level Rp7.500. Sejak awal tahun, harganya sudah merosot 6,54%, bahkan ambles 18,03% dalam setahun terakhir. (ZH)