CEO Draganfly: Kapal induk target mudah drone tabrak-ledak Iran
Rabu, 28 Januari 2026

JAKARTA - Pengerahan aset militer Amerika Serikat ke Timur Tengah dinilai menghadapi ancaman baru dari taktik perang drone tabrak-ledak Iran.
Pakar drone militer menilai kawanan drone murah dalam jumlah besar berpotensi menjadi ancaman nyata bagi kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln yang sudah memasuki kawasan operasi CENTCOM di Timur Tengah.
Cameron Chell, CEO dan salah satu pendiri Draganfly, seperti dikutip nypost.com, menilai strategi Iran memanfaatkan sistem tanpa awak berbiaya rendah namun diproduksi massal sebagai bentuk perang asimetris terhadap alutsista canggih AS. “Kemampuan drone Iran bernilai hingga puluhan juta dolar,” kata Chell kepada Fox News Digital.
“Dengan memadukan hulu ledak berbiaya rendah dengan platform pengiriman murah, pada dasarnya pesawat yang dikendalikan jarak jauh Iran telah mengembangkan ancaman asimetris yang efektif terhadap sistem militer yang sangat canggih.”
Menurutnya, Iran dapat meluncurkan ratusan drone sederhana secara bersamaan ke arah kapal perang untuk menciptakan serangan saturasi yang berpotensi menembus pertahanan konvensional.
“Jika ratusan diluncurkan dalam waktu singkat, hampir pasti sebagian akan lolos,” kata Chell. “Sistem pertahanan modern kapal induk tidak dirancang untuk menghadapi serangan saturasi seperti itu. Bagi kapal permukaan AS yang beroperasi di dekat Iran, kapal perang menjadi target utama.”
Ia menambahkan, ukuran kapal perang AS yang besar dan pergerakan yang relatif lambat membuatnya mudah terdeteksi radar. “Drone-drone ini memberi Iran cara yang sangat kredibel untuk mengancam kapal permukaan,” ujarnya.
“Aset AS di kawasan ini berukuran besar, bergerak lambat, dan mudah teridentifikasi di radar, sehingga mudah dijadikan target.”
Chell juga menekankan keunggulan Iran pada drone murah berkapasitas produksi tinggi, terutama drone sekali pakai untuk misi tabrak-ledak.
Selain mempersiapkan drone tabrak ledak, Iran terus memperkuat kemampuan militernya di laut dengan membangun arsenal rudal anti-kapal dalam skala besar. Persenjataan ini dirancang untuk menargetkan kapal induk, kapal perusak, serta armada laut modern yang beroperasi di kawasan Teluk dan sekitarnya.
Arsenal tersebut mencakup kombinasi rudal balistik dan rudal jelajah. Rudal balistik menyerang dari ketinggian dengan kecepatan sangat tinggi, sementara rudal jelajah terbang rendah di atas permukaan laut guna menghindari deteksi radar.
Dikutip wionews.com, pendekatan ini mencerminkan doktrin perang laut asimetris Teheran untuk menandingi keunggulan teknologi dan jumlah armada Amerika Serikat.
Di tengah ketegangan tersebut, kelompok tempur USS Abraham Lincoln diperkirakan segera bergeser wilayah operasi, meski masih memerlukan beberapa hari untuk siaga penuh di perairan kawasan Timur Tengah. Pengerahan ini bertepatan dengan meningkatnya gejolak domestik di Iran, sementara laporan menyebut Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah berpindah ke bunker bawah tanah.
Presiden Donald Trump turut menanggapi pengerahan itu dengan mengatakan, “Kami memiliki armada besar yang bergerak ke arah itu, dan kita lihat saja apa yang terjadi. Kami memiliki kekuatan besar menuju Iran. Saya lebih memilih tidak terjadi apa-apa, tetapi kami mengawasi mereka dengan sangat ketat.” (DH)
Baca:
1. Iran akan kerahkan drone murah untuk keroyok kapal induk AS?
2.Iran siapkan arsenal rudal anti-kapal induk dan perusak