UOB: Waspada, penipuan berbasis emas marak lagi
Kamis, 29 Januari 2026
JAKARTA – Bank UOB mengimbau nasabah meningkatkan kewaspadaan terhadap penipuan yang menyamar sebagai pejabat pemerintah, dengan modus mengarahkan korban membeli emas batangan di tengah lonjakan harga emas global.
Sepanjang 2025, UOB berhasil menggagalkan enam kasus penipuan terkait emas dan mencegah potensi kerugian lebih dari US$1,2 juta, demikian dikutip dari TheStar.com.my. Salah satu kasus terbesar melibatkan upaya pembelian 5 kilogram emas dengan nilai sekitar US$700.000 pada saat kejadian.
Kepala Kepatuhan Grup UOB, Daniel Ng, menyatakan bahwa skema penipuan berbasis emas kembali marak seiring kenaikan harga logam mulia tersebut.
“Skema ini muncul kembali sebagai modus operandi yang sedang tren dalam kasus impersonation scam pada 2025, sejalan dengan lonjakan harga emas,” ujarnya.
[[ Impersonation scam adalah penipuan dengan cara menyamar sebagai pihak berwenang atau orang tepercaya untuk menipu korban agar menyerahkan uang, aset, atau data pribadi.]]
Salah satu insiden terjadi pada Januari, ketika seorang nasabah UOB berusia 70-an tahun mendatangi cabang utama bank di Raffles Place untuk membeli emas batangan senilai hampir US$1 juta. Permintaan tersebut memicu kekhawatiran kerabat yang mendampinginya dan segera dilaporkan kepada staf bank.
Wakil Manajer Cabang UOB, Denethor Wong, mengatakan nasabah tersebut menunjukkan tanda-tanda tekanan psikologis yang kuat.
“Nasabah awalnya enggan menjelaskan situasinya dan terlihat sangat gelisah serta ketakutan,” ujarnya, seraya menjelaskan bagaimana pihak bank akhirnya menelusuri latar belakang kejadian tersebut.
Dari hasil penelusuran, UOB menemukan bahwa nasabah menerima panggilan telepon dari seseorang yang mengaku sebagai pejabat Otoritas Moneter Singapura (MAS). Pelaku menyatakan korban tengah diselidiki atas dugaan pencucian uang dan memerintahkannya membeli emas batangan untuk keperluan “pemeriksaan”, sambil melarang korban memberi tahu siapa pun.
Pihak kepolisian Singapura telah mengonfirmasi bahwa laporan resmi atas kasus tersebut telah dibuat dan saat ini tengah diselidiki. Menurut Daniel Ng, pelaku penipuan umumnya menggunakan narasi aktivitas keuangan mencurigakan atau penyalahgunaan identitas untuk menciptakan rasa panik dan urgensi pada korban.
UOB bersama otoritas setempat kembali menegaskan bahwa pejabat pemerintah tidak pernah meminta warga mentransfer dana, menarik uang tunai, atau membeli emas sebagai bagian dari proses penyelidikan. Masyarakat diimbau untuk selalu memverifikasi komunikasi mencurigakan melalui saluran resmi dan segera melapor jika menemukan indikasi penipuan. (DH)