Saham ambles, nilai kekayaan Prajogo Pangestu menyusut US$9 miliar
Kamis, 29 Januari 2026

JAKARTA - Kekayaan para taipan terkaya di Indonesia turun total hampir US$$22 miliar setelah MSCI Inc. mengajukan pertanyaan mendasar mengenai apakah perusahaan-perusahaan di negara ini benar-benar sepadan dengan harga saham mereka.
Kehilangan terbesar dialami Prajogo Pangestu, orang terkaya di Indonesia. Kekayaannya turun sekitar US$$9 miliar secara langsung setelah saham perusahaan energi dan pertambangannya merosot akibat laporan MSCI pada Rabu (28/01).
Menurut Bloomberg Billionaires Index, kekayaannya kini tercatat sekitar $31 miliar. Artinya jika dihitung sejak awal tahun total penurunan kekayaan Prajogo mencapai US$15 miliar.
Penurunan besar-besaran ini terjadi sebagai respons terhadap laporan MSCI yang mempertanyakan aturan pelaporan pemegang saham di Indonesia. MSCI menyebut bahwa aturan saat ini menghasilkan struktur kepemilikan yang tidak transparan, yang bisa memicu perdagangan tidak semestinya.
Pernyataan ini menambah kekhawatiran lama mengenai kepemilikan saham yang terkonsentrasi, yang menjadi dasar sebagian kekayaan terbesar di Indonesia dan beberapa tempat lain di Asia.
MSCI mengatakan pihaknya akan menunda beberapa perubahan indeks yang direncanakan dan memperingatkan bahwa konsekuensi lebih lanjut bisa muncul jika masalah ini tidak ditangani sebelum Mei.
Indeks Komposit Bursa Efek Jakarta ditutup turun lebih dari 7% pada Rabu dan sempat anjlok hingga 10% pada Kamis.
“Pembekuan MSCI adalah tembakan peringatan,” kata Tareck Horchani, Kepala Perdagangan Prime Brokerage di Maybank Securities Singapura.
“Jika regulator Indonesia dapat menunjukkan kemajuan, situasi ini cepat mereda. Jika tidak, premi risiko tetap tinggi.”
Kepemilikan Prajogo tercatat 71% di perusahaan energi PT Barito Pacific Tbk dan 84% perusahaan tambang batubara dan emas PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. Kedua saham ini ditutup turun lebih dari 12% pada Rabu.
Nancy Pangestu Tabardel, Managing Director Family Office Pangestu, mengatakan melalui email: “Kami sedang meninjau pernyataan MSCI baru-baru ini sesuai prosedur normal dan akan terus berinteraksi secara konstruktif dengan semua pemangku kepentingan terkait.”
Ia menambahkan bahwa kepemilikan Prajogo di perusahaan-perusahaan tersebut tidak berubah signifikan selama beberapa tahun terakhir. Grup Barito juga terus melakukan investasi besar, mendukung pertumbuhan pendapatan dan kontribusi terhadap ekonomi riil Indonesia.
Selain Prajogo, tercatat Haryanto Tjiptodihardjo kehilangan hampir $3 miliar dalam dua hari setelah perusahaan plastiknya, Impack Pratama Industri Tbk PT, turun 15%. Ia menguasai 85% saham perusahaan.
Miliarder lain, dari pemilik PT Bank Central Asia (BBCA) Michael Hartono hingga penambang batubara Low Tuck Kwong, juga tercatat mengalami kerugian.
Para miliarder Indonesia dalam indeks Bloomberg 500 orang memiliki saham perusahaan mulai dari beberapa persen hingga 92,5% dari total saham mereka. Perusahaan publik di Indonesia wajib memiliki free float minimal 7,5%.
Investor telah lama meminta Indonesia, rumah bagi pasar saham terbesar di Asia Tenggara, untuk memperketat aturan pelaporan. Banyak perusahaan publik dikendalikan oleh satu atau beberapa individu atau entitas, sementara hanya sebagian kecil saham yang diperdagangkan bebas. Hal ini bisa memicu fluktuasi harga yang besar dan sulit dijelaskan, serta menimbulkan kekhawatiran manipulasi pasar.
MSCI tidak menuding individu tertentu, tetapi menyatakan akan mempertimbangkan langkah tambahan, termasuk kemungkinan mengurangi bobot semua perusahaan Indonesia dalam indeks pasar berkembang, kecuali negara ini menunjukkan kemajuan sebelum Mei.
Saham yang diperdagangkan tipis juga telah mendongkrak kekayaan taipan lain di Asia. Misalnya, tahun lalu kekayaan Manuel Villar membengkak lebih dari $22 miliar setelah harga saham pengembang properti Manila, Villar Land Holdings Corp, melonjak lebih dari 1.000 kali laba, sebelum anjlok akibat pengawasan regulator. (DK)