Komentar Trump sering membuat dolar jatuh, ada motif tertentu?
Kamis, 29 Januari 2026

JAKARTA – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terperosok ke posisi terendah dalam empat tahun terakhir, setelah Presiden Donald Trump menepis kekhawatiran pasar terkait pelemahan mata uang tersebut.
Komentar Trump justru memicu arus keluar dana dari aset dolar menuju instrumen lindung nilai seperti emas dan franc Swiss. Dikutip The Guardian, indeks dolar tercatat turun 1,3% terhadap sekeranjang mata uang utama setelah komentar Trump pada Selasa, mencatatkan penurunan harian terbesar sejak April tahun lalu. Pelemahan berlanjut pada Rabu pagi dengan tambahan koreksi 0,2%.
“No, I think it’s great,” ujar Trump saat ditanya soal kejatuhan dolar dalam kunjungannya ke Iowa. Ia menegaskan, “Saya rasa nilai tukar dolar—lihat saja bisnis yang kita jalankan. Dolar sedang dalam kondisi bagus.”
Sepanjang setahun terakhir, dolar telah anjlok sekitar 10%. Penurunan tajam ini terjadi di tengah ketidakpastian kebijakan AS, termasuk ancaman tarif baru terhadap sekutu Eropa dan pernyataan kontroversial Trump terkait rencana pengambilalihan Greenland, yang memicu ketegangan geopolitik global. Trump tidak menjelaskan lebih lanjut mengapa ia menilai dolar yang sudah terdevaluasi 10% tersebut dalam kondisi “bagus.”
Apakah ini berarti Trump menyukai dolar yang lemah karena membuat barang Amerika lebih murah dan membantu mengurangi pembayaran utang nasional, yang kini mencapai US$38 triliun?
Awal Juni lalu, ekonom Deutsche Bank menawarkan solusi radikal untuk menghapus defisit perdagangan AS, yang saat ini mencapai US$36,5 triliun, dengan mendevaluasi dolar hingga 40%. Gagasan ini disampaikan Peter Hooper, Kepala Ekonom Global Deutsche Bank, dalam laporan risetnya. Hooper menyoroti bahwa penguatan riil dolar selama 15 tahun terakhir menjadi penyebab utama melebar defisit perdagangan AS.
Menurut laporan tersebut, nilai tukar riil dolar telah menguat sekitar 40% terhadap keranjang mata uang mitra dagang utama AS sejak 2010. Jika tren ini bisa dibalik, neraca perdagangan AS berpotensi kembali seimbang, bahkan surplus. Deutsche Bank memperkirakan depresiasi sebesar 20–30% saja dapat memangkas defisit hingga 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Analis pasar menilai pelemahan dolar berdampak ganda bagi perekonomian AS. “Dolar yang lebih lemah bagaikan koin bermata dua,” kata Steve Sosnick, Ahli Strategi Pasar di Interactive Brokers. Ia menjelaskan, “Jika perusahaan memiliki operasi global, pendapatan mata uang asing akan menguntungkan saat dikonversi ke dolar. Di sisi lain, impor menjadi lebih mahal dan bisa memicu inflasi.”
Tekanan terhadap dolar mendorong mata uang lain ke level tertinggi multi-tahun. Franc Swiss melonjak ke posisi terkuat terhadap dolar dalam lebih dari satu dekade, sementara euro menembus US$1,20, mencatatkan kinerja tahunan terbaik sejak 2017.
Di saat yang sama, harga emas menembus rekor tertinggi baru di atas US$5.200 per ons, memperpanjang reli tajam sejak pelantikan kedua Trump. Emas kini melonjak hampir 90% dalam sedikit lebih dari satu tahun.
Pasar juga dibayangi kekhawatiran atas tekanan politik terhadap Federal Reserve. Bank sentral AS dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Rabu, dengan ekspektasi suku bunga tetap dipertahankan, meski Trump secara terbuka mendesak penurunan. Ketegangan meningkat setelah Trump melontarkan kritik keras terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, menyebutnya “stupid” dan mengancam akan memecatnya. Bahkan, Departemen Kehakiman AS dikabarkan membuka penyelidikan kriminal terkait renovasi kantor pusat bank sentral.
Dengan masa jabatan Powell yang berakhir pada Mei, pasar kini bersiap menghadapi potensi perubahan besar di pucuk pimpinan Federal Reserve, faktor yang dinilai dapat menambah tekanan terhadap dolar AS. (DH/MT)
Baca Juga: Deutsche Bank: Nilai dolar diturunkan 40%, defisit Amerika terhapus