Geopolitik memanas, harga minyak brent tembus US$70 per barel

Jumat, 30 Januari 2026

image

JAKARTA - Harga minyak dunia kembali menguat ke level tertinggi dalam lima bulan terakhir, didorong kombinasi ketegangan geopolitik Timur Tengah, gangguan pasokan di sejumlah negara produsen, serta pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) yang mendorong aksi beli di pasar komoditas.

Dikutip Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup naik US$2,31 atau 3,4% ke level US$70,71 per barel pada perdagangan Kamis. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat US$2,21 atau 3,5% menjadi US$65,42 per barel.

Kekhawatiran pasar meningkat setelah muncul potensi gangguan distribusi dari Iran, produsen terbesar ketiga anggota OPEC. Investor mencermati kemungkinan eskalasi konflik Iran dan AS, yang berpotensi menghambat pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

Analis PVM, John Evans, menilai risiko di jalur tersebut menjadi perhatian utama pelaku pasar.

“Kekhawatiran pasar yang mendesak ... adalah kerusakan tambahan yang akan terjadi jika Iran menyerang negara-negara tetangganya atau, yang lebih mengkhawatirkan, menutup Selat Hormuz yang dilalui 20 juta barel minyak per hari,” kata Evans.

Selain faktor Iran, pasokan global juga dipengaruhi gangguan produksi di Kazakhstan dan pembatasan ekspor Rusia akibat sanksi.

“Gangguan di Kazakhstan telah mengurangi sejumlah besar barel minyak dari pasar,” kata analis UBS, Giovanni Staunovo.

Di saat yang sama, dolar AS bertahan dekat level terendah sejak 2022. Pelemahan dolar AS ikut mendorong harga minyak lebih murah bagi pembeli global, sehingga mendorong permintaan.

Kebijakan moneter Federal Reserve juga dinilai jadi sinyal penahanan suku bunga yang lebih lama, serta berpotensi menopang pertumbuhan ekonomi dan konsumsi energi.

Meski begitu, potensi tambahan pasokan dari Rusia, Venezuela, hingga pemulihan produksi minyak AS pascabadai musim dingin, diperkirakan dapat meredam reli harga dalam jangka menengah. (DH/KR)