Kemenpora dorong pemuda pimpin inovasi berkelanjutan global
Sabtu, 31 Januari 2026

JAKARTA — Deputi Bidang Pelayanan Kepemudaan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI, Yohan, menegaskan peran strategis pemuda sebagai penggerak perubahan di tengah tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari krisis iklim, ketimpangan ekonomi, hingga disrupsi teknologi.
Hal tersebut disampaikan Yohan saat membuka Youth Speak Forum 2026 yang digelar oleh Isaac Indonesia di Menara Syariah PIK 2, Jakarta, dan dihadiri pemuda dari berbagai daerah di Indonesia.
“Kepemimpinan global hari ini bukan soal jabatan atau kartu nama. Kepemimpinan adalah keberanian untuk memulai, saat yang lain memilih diam,” ujar Yohan dalam sambutannya pada hari Sabtu (31/01).
Kepemimpinan Dimulai dari Pola PikirYohan menekankan bahwa kepemimpinan tidak selalu identik dengan posisi formal, seperti CEO atau pejabat publik.
Menurutnya, kepemimpinan sejati berakar dari pola pikir (mindset) dan kemampuan memberi pengaruh positif, bahkan tanpa jabatan struktural.
Ia menilai, di era tanpa batas negara saat ini, pemimpin global adalah mereka yang mampu berempati lintas budaya dan berani mengambil tanggung jawab atas persoalan yang bahkan tidak mereka ciptakan.
“Kepemimpinan bukan tentang menjadi yang pertama, tapi menjadi yang pertama untuk peduli,” tegasnya.
Inovasi BerkelanjutanDalam forum bertema Empowering Change Through Global Leadership and Sustainability tersebut, Yohan juga menyoroti pentingnya inovasi berkelanjutan.
Ia mengingatkan bahwa inovasi yang hanya mengikuti tren media sosial berisiko menjadi konsumsi jangka pendek tanpa dampak nyata.
Menurutnya, inovasi berkelanjutan harus memenuhi tiga pilar utama: planet (lingkungan), people (manusia), dan prosperity (ekonomi).
“Inovasi bukan hanya menciptakan sesuatu yang baru, tetapi solusi yang berdampak positif jangka panjang bagi manusia, ekonomi, dan bumi,” jelasnya.
Ia mencontohkan, inovasi harus mampu mengurangi emisi, meminimalkan limbah, bersifat inklusif, serta mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya pemuda.
Tantangan KetenagakerjaanDalam paparannya, Yohan juga menyinggung kondisi ketenagakerjaan pemuda Indonesia yang masih menghadapi tantangan besar.
Saat ini, jumlah pemuda Indonesia mencapai 66,83 juta jiwa atau sekitar 23,5 persen dari total penduduk.
Namun, sekitar 23,78 persen di antaranya atau hampir 16 juta pemuda masuk dalam kategori NEET (Not in Employment, Education, or Training).
Ia menjelaskan, ketidakseimbangan antara jumlah lulusan dan ketersediaan lapangan kerja menjadi salah satu penyebab utama.
Setiap tahun, Indonesia meluluskan sekitar 3 juta tenaga kerja baru, sementara pertumbuhan lapangan kerja tidak sebanding akibat otomatisasi dan penggunaan teknologi.
“Mindset pemuda harus berubah. Tidak lagi hanya mencari pekerjaan, tetapi menciptakan lapangan pekerjaan,” ujarnya.
Penguatan KarakterYohan juga menegaskan bahwa program kepemudaan Kemenpora saat ini berfokus pada penguatan karakter dan jati diri bangsa, sejalan dengan arahan Menteri Pemuda dan Olahraga.
Ia menyebut tiga nilai utama yang harus dimiliki pemuda Indonesia, yakni patriotik, gigih, dan empatik.
Semangat nasionalisme, ketangguhan menghadapi tantangan, serta kepedulian terhadap sesama dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga keutuhan dan kemajuan bangsa.
Arsitek Masa DepanMenutup sambutannya, Yohan mengajak para peserta Youth Speak Forum untuk tidak menunggu siap dalam memimpin.
Menurutnya, sejarah membuktikan bahwa perubahan besar kerap dimulai oleh anak muda yang berani gagal dan tidak takut mencoba.
“Masa depan tidak datang begitu saja. Masa depan dibuat oleh kita, di sini, sekarang,” pungkasnya.
Ia berharap Youth Speak Forum tidak hanya menjadi ajang bertukar gagasan, tetapi juga melahirkan kolaborasi nyata untuk membangun Indonesia yang berkelanjutan. (BS)