CEO WIRG Stephen Budiman: AI makin pintar, manusia yang tentukan arah
Sabtu, 31 Januari 2026

JAKARTA — Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat menuntut manusia untuk tetap menjaga kualitas fundamental yang tidak dapat digantikan oleh mesin.
CEO PT WIR ASIA, Stephen Budiman Ng, menegaskan bahwa empati dan kemampuan berpikir kritis menjadi dua elemen utama yang tidak boleh hilang dalam pemanfaatan AI, khususnya di sektor pendidikan.
Stephen menyebutkan bahwa AI pada dasarnya merupakan perpanjangan dari pikiran manusia.
"Oleh karena itu, kualitas manusia sebagai penggunanya justru menjadi penentu utama arah dan dampak teknologi tersebut," kata dia dalam sebuah seminar "Future by Youth: Empowering Change through Global Leaderhsip and Sustainability" pada acara AIESEC 2026 di Menara Syariah PIK2, Sabtu (31/01).
Pandangan ini juga sejalan dengan rekomendasi World Economic Forum (WEF) yang menempatkan critical thinking dan empathy sebagai kompetensi kunci masa depan.
Lebih lanjut, Stephen menyoroti bahwa kesenjangan digital di Indonesia tidak hanya soal akses teknologi, tetapi juga literasi digital.
Ia menilai sistem pendidikan nasional belum secara serius membekali peserta didik dengan pemahaman literasi digital sejak dini.
“Tidak ada pelajaran literasi digital di tingkat dasar, padahal ini sangat krusial. Tanpa literasi, teknologi justru berisiko disalahgunakan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa penguatan literasi digital perlu dilakukan secara sistematis agar AI tidak sekadar menjadi alat otomatisasi, tetapi benar-benar meningkatkan kualitas berpikir manusia.
Menanggapi isu apakah AI dapat berkembang hingga menyamai empati manusia, Stephen menjelaskan bahwa tujuan jangka panjang AI adalah Artificial General Intelligence (AGI).
Namun, ia menilai pencapaian tersebut masih sangat jauh dan belum tentu terjadi dalam waktu dekat.
Stephen juga menyoroti potensi besar quantum computing yang dikombinasikan dengan AI. Ia mencontohkan chip kuantum Google yang mampu menyelesaikan perhitungan dalam hitungan menit, dibandingkan miliaran tahun yang dibutuhkan oleh superkomputer konvensional.
Meski demikian, ia menekankan bahwa setiap teknologi baru selalu membutuhkan mekanisme pengendalian (containment) agar tidak menimbulkan risiko.
Dalam konteks pendidikan, Stephen menilai AI seharusnya diposisikan sebagai mitra kolaboratif, bukan ancaman.
WIRG sendiri tengah mengembangkan guru virtual berbasis AI untuk mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus, guna mengatasi keterbatasan jumlah tenaga pendidik terlatih.
Selain itu, ia juga melihat peluang AI sebagai alat pendeteksi awal kesehatan mental, mengingat keterbatasan jumlah psikolog bersertifikasi di Indonesia.
Namun, Stephen menegaskan bahwa aspek etika, keamanan, dan sandboxing harus menjadi prioritas sebelum teknologi tersebut diterapkan secara luas.
Menutup diskusi, Stephen mendorong generasi muda Indonesia untuk tidak hanya menjadi konsumen AI, tetapi juga penentu arah pengembangannya.
Menurut dia, masa depan AI sangat bergantung pada nilai, empati, dan tanggung jawab manusia yang menggunakannya.
“AI akan semakin pintar, tapi manusia tidak boleh berhenti berpikir. Kita yang menentukan AI mau dibawa ke arah mana,” tutup Stephen. (BS)