Pengalaman lintas budaya krusial dalam bangun kepemimpinan?
Sabtu, 31 Januari 2026

JAKARTA — CEO Bakrie Center Foundation (BCF) Jimmy Gani menegaskan bahwa pengalaman internasional dan lintas budaya sejak usia muda memiliki peran krusial dalam membentuk kepemimpinan yang adaptif, inklusif, dan berdaya saing global.
Hal tersebut ia sampaikan saat berbagi perjalanan karier dan pandangan kepemimpinan dalam sebuah seminar "Future by Youth: Empowering Change through Global Leaderhsip and Sustainability" pada acara AIESEC 2026 di Menara Syariah PIK2, Sabtu (31/01).
Jimmy mengungkapkan, keterlibatannya di organisasi internasional AIESEC sejak 1992, ketika masih menjadi mahasiswa Universitas Padjadjaran, menjadi titik awal pembentukan karakter dan pola pikir kepemimpinannya.
Saat itu, AIESEC Indonesia baru berdiri, dan ia mendapat kesempatan mengikuti konferensi internasional pertamanya di Helsinki, Finlandia.
“Pengalaman internasional itu mengubah saya. Dari seorang mahasiswa, saya belajar menjadi aktivis global yang terbiasa bekerja lintas budaya,” ujar Jimmy.
Menurut Jimmy, keterlibatan aktif dalam berbagai konferensi internasional AIESEC, termasuk Asia Pacific Conference pada 1993, memberinya pengalaman nyata dalam kepemimpinan, kerja tim multikultural, hingga kemampuan membangun jejaring dan mencari pendanaan.
Pengalaman tersebut kemudian membawanya melanjutkan studi dan bekerja di Amerika Serikat. Sepulangnya ke Indonesia, Jimmy meniti karier di perusahaan multinasional dan dipercaya menjabat sebagai Chief Financial Officer (CFO) di usia 24 tahun.
Tak lama berselang, ia naik menjadi Vice President untuk wilayah Asia, menjadikannya salah satu VP termuda di tingkat global saat itu.
“Saya memulai dari level paling bawah. Kepemimpinan tidak pernah instan, tetapi dibentuk dari proses, kegagalan, dan kemauan belajar,” jelasnya.
Pada usia 30 tahun, Jimmy mendirikan perusahaan konsultan sendiri yang berkembang pesat dari satu orang menjadi ratusan karyawan.
Enam tahun kemudian, berkat kepemimpinan dan jejaring global yang dimilikinya, ia dipercaya menjadi CEO sebuah BUMN dan mencatatkan rekor MURI sebagai CEO termuda dalam sejarah Republik Indonesia.
Kini, Jimmy aktif memimpin Bakrie Center Foundation dan terlibat di lebih dari 16 organisasi, termasuk asosiasi pengusaha dan organisasi alumni internasional.
Ia menegaskan bahwa hampir seluruh perjalanan tersebut sangat dipengaruhi oleh paparan global yang ia peroleh sejak masih mahasiswa.
Jimmy menilai, bekerja dengan tim dari berbagai negara melatih pemimpin untuk memahami perbedaan karakter, gaya kerja, dan nilai budaya. Menurutnya, kemampuan adaptasi menjadi kunci dalam kepemimpinan modern.
“Setiap negara punya karakter berbeda. Dari situ, kita belajar beradaptasi, berkolaborasi, dan membangun kepemimpinan yang inklusif,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengalaman lintas sektor—mulai dari perusahaan multinasional, wirausaha, BUMN, hingga dunia pendidikan—membentuk fleksibilitas dan ketangguhan seorang pemimpin dalam menghadapi perubahan.
Dalam kesempatan tersebut, Jimmy juga memaparkan lima karakter utama pemimpin yang paling dibutuhkan dunia profesional saat ini:
Ia menekankan bahwa setiap profesional pada akhirnya harus mampu “menjual” ide dan membangun kepercayaan.
Menanggapi fenomena star syndrome pada generasi muda dengan eksposur global tinggi namun minim pengalaman teknis, Jimmy mengingatkan pentingnya kerendahan hati dan kesiapan memulai dari bawah.
“Tidak ada bintang yang lahir instan. Keahlian dibangun dari kerja keras dan proses belajar yang panjang,” tegasnya.
Ia menyarankan talenta muda untuk aktif meminta umpan balik, melakukan refleksi diri, dan membangun kompetensi nyata agar ambisi global tetap sejalan dengan kebutuhan dunia kerja.
Menutup sesi, Jimmy mengutip pemikiran Napoleon Hill bahwa setiap orang mungkin tidak melakukan hal besar, tetapi bisa melakukan hal kecil dengan cara yang luar biasa.“Lakukan hal kecil dengan cara terbaik. Dari sanalah kepemimpinan dan kesuksesan dibangun,” pungkasnya. (BS)