Bitcoin tergelincir di bawah US$85.000, likuidasi tembus US$1 miliar
Sabtu, 31 Januari 2026

JAKARTA - Bitcoin kembali berada di bawah tekanan. Setelah sebelumnya investor beralih dari aset kripto ke emas dan perak sebagai lindung nilai terhadap pelemahan dolar AS, kini Bitcoin justru ikut melemah bersama logam mulia dalam aksi jual aset berisiko secara luas.
Kondisi ini kembali menegaskan posisi Bitcoin sebagai aset berisiko tinggi yang pergerakannya memperbesar sentimen pasar global.
Pada Kamis, mata uang kripto terbesar dunia itu jatuh di bawah level US$85.000 untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir.
Seperti dikutip businesstimes.com.sg, harga Bitcoin sempat merosot hingga 6,8 persen ke level US$83.240, posisi terendah sejak 21 November.
Tekanan tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Aset kripto berkapitalisasi lebih kecil mengalami penurunan lebih tajam, dengan Ether, Dogecoin, Cardano, dan Solana masing-masing anjlok setidaknya 7 persen.
Secara keseluruhan, lebih dari US$1 miliar posisi dengan leverage terlikuidasi di pasar kripto.
Penurunan terbaru ini melanjutkan tren melemah yang sudah berlangsung sejak awal Oktober. Harga Bitcoin tercatat stagnan meski saham teknologi serta emas dan perak sempat menguat dalam beberapa pekan terakhir.
Saat ini, Bitcoin telah turun lebih dari 30 persen dari rekor tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada 6 Oktober.
“Penurunan hari ini kripto kembali menunjukkan karakter sebagai aset beta berleverage, yakni aset berisiko dengan sensitivitas tinggi yang memperbesar pergerakan pasar tradisional,” ujar Chris Newhouse, Head of Business Development di Ergonia.
Menurutnya, pasar kripto memperbesar sentimen risk-off yang tengah menekan pasar saham, khususnya sektor teknologi. Ia menambahkan, tekanan jual semakin berat akibat likuidasi posisi long yang terlalu agresif, sehingga memicu penjualan mekanis di pasar yang sudah rapuh.
Data Coinglass menunjukkan likuidasi aset kripto terus meningkat dalam 24 jam terakhir, dengan total nilai melebihi US$1 miliar.
Dari jumlah tersebut, sekitar US$923 juta berasal dari posisi long, sementara sekitar US$120 juta dari posisi short.
“Posisi di pasar derivatif masih bersifat defensif,” kata Jake Ostrovskis, Head of OTC Trading di Wintermute.
Ia menambahkan, minat terbuka (open interest) kontrak berjangka Bitcoin di CME berada di sekitar level terendah tahunan. Sementara itu, tingkat pendanaan perpetual futures, indikator sentimen pasar, berada di dekat level netral, menandakan minimnya keyakinan spekulatif.
Pelemahan harga kripto juga menekan saham-saham terkait sektor ini. Saham Coinbase Global turun lebih dari 6 persen, Strategy, perusahaan dengan eksposur besar ke Bitcoin, anjlok 11 persen, sementara saham penambang kripto MARA Holdings melemah lebih dari 6 persen.
Tekanan tambahan datang dari pembongkaran strategi populer di pasar keuangan global, seperti yen carry trade, menurut Matt Maley, Chief Market Strategist di Miller Tabak & Co.
Strategi ini melibatkan pinjaman dalam mata uang yen yang berimbal hasil rendah untuk kemudian diinvestasikan ke aset dengan imbal hasil lebih tinggi.
“Bitcoin dan kripto lainnya cenderung bergerak seiring dengan likuiditas,” ujar Maley. “Saat likuiditas melimpah, kripto menguat. Ketika likuiditas menyusut, kripto melemah. Salah satu indikator terbaik tingkat likuiditas global adalah yen carry trade.”
Ke depan, pelaku pasar kini mencermati level US$80.000 sebagai area support penting bagi pergerakan Bitcoin selanjutnya. (DK)