Swiss tolak tuduhan Depkeu Amerika soal manipulasi franc
Minggu, 01 Februari 2026

JAKARTA – Bank Nasional Swiss (Swiss National Bank/SNB) mengeluarkan bantahan keras terhadap tuduhan praktik curang setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat memutuskan untuk mempertahankan Swiss dalam daftar pengawasan ketat mata uang.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Jumat, SNB menegaskan bahwa mereka tidak melakukan manipulasi nilai tukar franc demi mendapatkan keuntungan dagang yang "tidak adil" (unfair trade advantage), melainkan semata-mata menjalankan mandat kebijakan moneter domestik.
Dikutip dari Reuters (30/1), laporan terbaru Departemen Keuangan AS yang kini memperketat pemantauan praktik valuta asing global—menempatkan Swiss bersama sembilan negara lain, termasuk China, Jepang, dan Korea Selatan, dalam "daftar pantau" (watch list).
AS mencatat bahwa Swiss memenuhi dua dari tiga kriteria teknis yang mengindikasikan potensi manipulasi mata uang. Meskipun demikian, laporan tersebut mengakui bahwa intervensi valuta asing yang dilakukan Swiss, yang tercatat sebesar US$7 miliar dalam periode 12 bulan hingga Juni 2025, masih dianggap "relatif moderat".
SNB membela tindakannya dengan merujuk pada pernyataan bersama bulan September lalu, di mana AS sendiri mengakui pentingnya intervensi pasar bagi Swiss untuk mengendalikan inflasi. Bank sentral menjelaskan bahwa mereka sempat "berdiam diri" cukup lama dan baru meningkatkan intervensi pasar secara signifikan pada April 2025.
Langkah ini diambil sebagai respons darurat untuk membendung apresiasi liar mata uang franc setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rentetan perang tarif global (global tariffs). Penguatan mata uang yang terlalu tajam dinilai berbahaya karena dapat menekan inflasi hingga di bawah target.
Ketua SNB Martin Schlegel menegaskan kembali pekan lalu bahwa intervensi valuta asing dan suku bunga adalah instrumen utama yang legal untuk menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran mandat 0 hingga 2 persen.
Para analis mendukung posisi SNB, menyoroti karakteristik unik franc Swiss sebagai aset lindung nilai (safe-haven currency).
Karsten Junius, Ekonom J.Safra Sarasin, menilai kebijakan SNB tidak akan berubah meski ada tekanan dari Washington. Menurutnya, SNB tidak sedang mencari keuntungan curang, melainkan berusaha "menetralkan kerugian yang tidak adil" (neutralise an unfair disadvantage) akibat status safe-haven tersebut.
Ketika ketidakpastian global meningkat, investor berbondong-bondong membeli franc, yang menyebabkan mata uang tersebut menguat drastis dan secara otomatis menekan tingkat inflasi domestik ke level yang berbahaya bagi stabilitas ekonomi Swiss. (SF)