Akademisi China skeptis Amerika bisa invasi 'Model Venezuela' di Iran
Minggu, 01 Februari 2026

JAKARTA – Citra satelit eksklusif yang diperoleh media pemerintah China menyingkap fakta baru di balik ketegangan Timur Tengah, militer Amerika Serikat secara diam-diam namun signifikan telah meningkatkan kehadiran aset tempur ofensif dan defensif di sekeliling Iran.
Temuan ini muncul bersamaan dengan ancaman eksplisit Presiden AS Donald Trump di media sosial Truth Social pada 28 Januari, yang memperingatkan bahwa armada kapal induk USS Abraham Lincoln sedang bergerak untuk melancarkan misi dengan "kecepatan dan kekerasan" (speed and violence) jika diperlukan, menyamakan skenario ini dengan operasi di Venezuela.
Dikutip dari Global Times (30/1/2026), analisis citra satelit dari perusahaan penginderaan jauh MizarVision menunjukkan eskalasi mencolok dibandingkan pertengahan Januari.
Di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, citra per tanggal 25 Januari merekam lonjakan jumlah pesawat pengisi bahan bakar udara KC-135 dan pesawat angkut C-17, serta instalasi baru yang diidentifikasi sebagai sistem pertahanan udara Patriot.
Peningkatan serupa terlihat di Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait yang kini dijaga sistem Patriot tambahan, serta kehadiran armada besar jet tempur F-15E di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania.
Teheran merespons provokasi ini dengan keras. Ali Shamkhani, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, bersumpah bahwa agresi sekecil apa pun akan dianggap sebagai perang yang memicu serangan balasan ke "jantung Tel Aviv".
Meski demikian, pakar militer China, Zhang Junshe, menilai bahwa Washington belum memenuhi "syarat perlu" (necessary condition) untuk melancarkan kampanye militer skala penuh. Indikator kuncinya adalah pangkalan strategis Diego Garcia di Samudra Hindia.
Citra satelit hingga 26 Januari hanya menunjukkan dua pesawat angkut C-17 di sana, tanpa tanda-tanda kehadiran pesawat pembom strategis siluman B-2 atau B-52. Menurut Zhang, mengingat fasilitas nuklir dan rudal Iran terkubur di bungker bawah tanah yang diperkuat, serangan efektif memerlukan bom penembus tanah (bunker busters) yang hanya bisa dibawa oleh pembom strategis tersebut, bukan sekadar jet taktis F-15.
Lebih lanjut, para akademisi China skeptis terhadap ambisi Trump menerapkan "Model Venezuela" untuk menggulingkan rezim Iran. Sun Degang, Direktur Pusat Studi Timur Tengah di Universitas Fudan, menjelaskan bahwa struktur kekuasaan Iran tidak terpusat pada satu figur seperti Nicolás Maduro, melainkan jaringan kompleks yang melibatkan ulama, Garda Revolusi (IRGC), dan militer.
Liu Zhongmin dari Universitas Studi Internasional Shanghai menambahkan bahwa tanpa invasi darat yang dihindari Trump demi strategi "tanpa kontak" (zero contact)—serangan udara atau operasi pemenggalan (decapitation strikes) saja tidak akan meruntuhkan pemerintahan Teheran.
Sebaliknya, Iran yang telah belajar dari serangan kejutan Juni lalu kini berada dalam kesiagaan penuh, siap melancarkan pembalasan yang jauh lebih luas daripada sekadar serangan simbolis. (SF)