Iran kerahkan kapal induk drone 'Shahid Bagheri' ke Teluk Persia
Minggu, 01 Februari 2026

JAKARTA – Eskalasi militer di Timur Tengah mencapai babak baru yang menegangkan ketika Iran secara resmi mengerahkan kapal induk pengangkut drone (drone carrier) pertamanya, Shahid Bagheri, ke posisi tempur di Teluk Persia, tepat di dekat titik tersibuk Selat Hormuz.
Langkah agresif Teheran ini merupakan respons langsung terhadap laporan intelijen mengenai pergerakan armada besar angkatan laut Amerika Serikat yang sedang mendekat ke perairan Iran, sebuah manuver yang disebut Teheran sebagai ancaman nyata.
Dikutip dari The Week (28/1), rekaman yang disiarkan media pemerintah Press TV memperlihatkan kesiapan tempur kapal tersebut. "UAV ditempatkan di atasnya dan siap merespons setiap serangan terhadap negara," bunyi laporan tersebut.
Kehadiran kapal ini dibarengi dengan penguatan garis pantai selatan Iran oleh unit-unit elit Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC).
Shahid Bagheri sendiri sejatinya adalah kapal kontainer berbobot 42.000 ton bernama Prarin yang dimodifikasi secara ekstrem dan resmi bertugas di Angkatan Laut IRGC (IRGCN) sejak 6 Februari 2025.
Secara spesifikasi, kapal raksasa ini memiliki panjang lebih dari 240 meter, lebar 32 meter, dan draft (kedalaman benam) 12 meter. Dek kapal telah diubah menjadi landasan pacu sepanjang 180 meter yang dilengkapi dengan platform peluncuran menanjak (inclined ski-jump) untuk memfasilitasi lepas landas drone tempur.
Kapasitas angkutnya sangat masif; kapal ini mampu membawa dan mengoperasikan 60 unit drone berbagai tipe serta helikopter. Tak hanya itu, bagian lambung bawah kapal yang luas dimanfaatkan untuk menyimpan 30 kapal cepat peluncur rudal (fast missile-launching vessels), menjadikannya pangkalan bergerak hibrida untuk serangan udara dan laut.
Selain berfungsi sebagai pengangkut, Shahid Bagheri adalah benteng pertahanan terapung yang dipersenjatai lengkap. Inventaris senjatanya mencakup delapan rudal pertahanan Kowsar 222 dengan jangkauan 17 km di haluan dan buritan, serta delapan rudal anti-kapal seri Qader-Nasir yang ditempatkan di belakang anjungan komando.
Laporan juga menyebutkan adanya kontainer khusus yang diduga kuat memuat dua rudal balistik. Untuk pertahanan jarak dekat, kapal ini dilengkapi meriam laras tunggal 30 mm dan dua meriam Gatling 20 mm laras tiga. Kapal ini dirancang untuk misi jangka panjang dengan kemampuan berlayar terus-menerus selama satu tahun, didukung oleh tim perang elektronik (electronic warfare), pertahanan rudal, dan pasukan komando khusus.
Pengerahan ini memicu kekhawatiran serius di Washington karena sifat ancamannya yang asimetris. Cameron Chell, CEO produsen drone Draganfly, menjelaskan kepada Fox News bahwa strategi Iran menggabungkan drone murah dengan hulu ledak menciptakan ancaman yang sulit ditangkal.
Ia menyoroti taktik serangan gerombolan (swarm attacks) yang dirancang untuk membanjiri sistem pertahanan kapal perang canggih AS. "Jika ratusan diluncurkan dalam waktu singkat, beberapa di antaranya hampir pasti akan mencapai target mereka," ujarnya.
Serangan terkoordinasi semacam ini bertujuan untuk menguras amunisi (exhaust magazines) kapal pertahanan udara AS dan menciptakan celah keamanan yang fatal. (SF)
Baca Juga: Akademisi China skeptis Amerika bisa invasi 'Model Venezuela' di Iran