Efek Kevin Warsh: Emas dan perak jatuh dari rekor tertinggi
Minggu, 01 Februari 2026

JAKARTA – Harga emas, perak, dan tembaga mengalami kejatuhan signifikan pada perdagangan hari Jumat, mengakhiri reli spekulatif yang sempat membawa logam-logam tersebut ke rekor tertinggi sepanjang masa pekan ini.
Pemicu utamanya adalah pengumuman Presiden Donald Trump yang memilih mantan Gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, untuk memimpin bank sentral AS, sebuah langkah yang langsung memperkuat posisi dolar dan memupus harapan pasar akan pemangkasan suku bunga yang agresif.
Dikutip dari Reuters (30/1/2026), penunjukan Warsh mengubah kalkulasi investor.
Tom Price, analis dari Panmure Liberum, menyatakan bahwa pasar menilai Warsh sebagai figur rasional yang tidak akan terburu-buru memangkas suku bunga.
Akibatnya, dolar menguat, membuat logam yang dihargai dalam greenback menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Hal ini memicu gelombang profit-taking atau aksi ambil untung dari investor yang ingin melindungi modal mereka setelah menikmati keuntungan besar sepanjang Januari.
Data perdagangan menunjukkan penurunan yang tajam. Emas tergelincir 4,7 persen ke level US$5.143,40 per ons. Perak mengalami nasib lebih buruk dengan anjlok 11 persen ke US$103,40, jatuh dari rekor tertingginya di US$121,60 pada hari Kamis.
Ross Norman, seorang analis independen, menggambarkan situasi ini dengan kalimat tajam: "Logam mulia telah menemukan gravitasi (discovered gravity). Ini brutal, tapi para spekulan diingatkan kembali bahwa pasar ini bergerak dua arah."
Tembaga juga tidak luput dari tekanan. Setelah menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di US$14.527,50 per metrik ton pada hari Kamis, harga tembaga turun 1,1 persen menjadi US$13.465.
Alice Fox, Analis Macquarie, mencatat bahwa dana investasi terus mengalir ke pasar tembaga yang relatif kecil dan kini sangat padat (crowded market), sehingga harga kemungkinan akan tetap tinggi namun volatil.
Para pedagang kini bersiap menghadapi penurunan lebih lanjut menjelang libur Tahun Baru Imlek di China yang dimulai 16 Februari. China sebagai konsumen logam terbesar dunia akan menutup aktivitasnya selama seminggu.
Menurut analis, para "pemain" (punters) di China tidak akan mau memegang posisi terbuka di pasar yang sangat fluktuatif ini selama masa liburan, sehingga potensi aksi jual lanjutan masih membayangi dalam beberapa hari ke depan. (SF)