Pertama kali, emas dominasi ekspor AS saat dolar turun, sinyal apa?

Senin, 02 Februari 2026

image

JAKARTA – Data perdagangan terbaru Amerika Serikat mengungkap fenomena ekonomi yang mengkhawatirkan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah pencatatan modern, emas menjadi komoditas ekspor terbesar AS selama dua bulan berturut-turut, yakni pada Oktober dan November 2025.

Analis Forbes, Ken Roberts, menyebut tren ini sebagai “not good news”. Lonjakan pengiriman emas keluar dari AS, menurutnya, bukan mencerminkan produktivitas industri, melainkan menjadi indikator meningkatnya permintaan aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Dikutip dari Forbes (30/1/2026), data Biro Sensus AS menunjukkan nilai ekspor emas mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, masing-masing sebesar US$16,72 miliar pada Oktober dan US$12,45 miliar pada November. Angka ini melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika ekspor emas AS hanya berada di kisaran US$2 miliar.

Lonjakan tersebut dipicu oleh kebijakan “Hari Pembebasan” (Liberation Day) yang dicanangkan Trump pada April 2025 dan memicu perang dagang global yang tidak menentu. Tarif yang dinaikkan, ditarik, lalu diberlakukan kembali secara acak menciptakan ketidakpastian berkepanjangan. Dalam kondisi tersebut, investor dan bank sentral asing—terutama dari Polandia, Kazakhstan, China, dan Turki—meningkatkan pembelian emas fisik serta mengurangi eksposur terhadap dolar AS.

Ironisnya, dominasi emas sebagai komoditas ekspor utama terungkap hanya sehari setelah harga emas mengalami koreksi tajam. Pada 28 Januari, harga emas sempat menyentuh rekor US$5.589 per ons, sebelum turun ke bawah US$4.900 pada Jumat sore. Penurunan tersebut dipicu oleh kabar bahwa Trump akan menunjuk Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve.

Pasar memandang Warsh sebagai figur yang lebih independen dan cenderung menolak tekanan politik untuk memangkas suku bunga secara agresif, sehingga memulihkan sebagian kepercayaan terhadap dolar AS.

Di luar dinamika harga emas, kebijakan perdagangan pemerintahan Trump juga mengubah struktur perdagangan Amerika Serikat secara signifikan. Untuk pertama kalinya dalam hampir tiga dekade, Meksiko diperkirakan akan menggeser Kanada sebagai pembeli terbesar ekspor AS.

Sebaliknya, proses pemisahan ekonomi (decoupling) dengan China semakin mendalam. Porsi perdagangan AS–China kini turun ke bawah 10 persen dari total perdagangan AS, merosot tajam dari 16,38 persen pada 2017.

Perubahan juga terjadi pada komposisi impor. Kategori komputer—termasuk peladen (servers) dan komponen utama untuk kecerdasan buatan (artificial intelligence)—kini menggantikan minyak mentah dan mobil penumpang sebagai impor bernilai tertinggi AS. Taiwan menjadi pemasok utama, dengan pangsanya dalam total impor AS meningkat menjadi 5,74 persen.

Perubahan karakter barang dagangan yang semakin bernilai tinggi namun bervolume kecil—seperti emas dan cip semikonduktor—juga berdampak pada jalur logistik. Bandara udara Chicago O’Hare dan JFK International kini menggeser pelabuhan laut tradisional seperti Port of Los Angeles sebagai pintu gerbang utama perdagangan Amerika Serikat.

Utang Jumbo - Cadangan Emas Besar

Amerika Serikat saat ini merupakan negara dengan beban utang terbesar di dunia, dengan total utang federal sekitar US$38 triliun. Sementara itu, sepanjang tahun ini, sejak Trump mengobarkan perang tarif terhadap sejumlah negara mitra dagang, nilai tukar dolar AS tercatat telah terdepresiasi hampir 10 persen terhadap sejumlah mata uang utama.

Di sisi lain, Amerika Serikat juga tercatat sebagai pemilik cadangan emas terbesar di dunia, dengan total cadangan sekitar 8.133 ton metrik. Cadangan tersebut disimpan di beberapa fasilitas utama, termasuk Fort Knox, West Point, dan Denver Mint. Seiring kenaikan harga emas global, nilai cadangan emas Amerika turut melonjak.

Dalam kerangka moneter, perubahan nilai tukar mata uang dan harga komoditas strategis seperti emas memengaruhi keseimbangan antara nilai kewajiban dan nilai aset suatu negara. Kombinasi pelemahan dolar dan kenaikan harga emas global membentuk dinamika baru dalam posisi keuangan Amerika Serikat di tengah pergeseran peta perdagangan dunia.

Terkait nilai dolar, ekonom Deutsche Bank sebelumnya mengemukakan gagasan bahwa depresiasi mata uang AS secara signifikan berpotensi mengurangi defisit perdagangan Amerika Serikat, yang mencapai sekitar US$36,5 triliun (Juni 2025).

Gagasan tersebut disampaikan oleh Peter Hooper, Kepala Ekonom Global Deutsche Bank, dalam laporan riset yang menyoroti penguatan nilai tukar riil dolar selama 15 tahun terakhir sebagai salah satu faktor utama pelebaran defisit perdagangan AS, sebagaimana dilansir news.futunn.com, Selasa (10/6/2025).

Menurut laporan tersebut, nilai tukar riil dolar AS telah menguat sekitar 40 persen terhadap keranjang mata uang mitra dagang utama sejak 2010. Jika tren penguatan tersebut berbalik, neraca perdagangan AS berpotensi kembali mendekati keseimbangan. Deutsche Bank memperkirakan depresiasi dolar sebesar 20–30 persen dapat memangkas defisit perdagangan hingga sekitar 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Jadi sebenarnya harga emas yang terus meroket dengan nilai dolar yang makin melemah merupakan 'good news' atau 'bad news' buat Amerika? (SF/MT)

Baca: Deutsche Bank: Nilai dolar diturunkan 40%, defisit Amerika terhapus