OPEC+ tahan produksi meski harga minyak naik, beri pesan apa?
Senin, 02 Februari 2026

JAKARTA - OPEC+ memutuskan untuk tetap menahan pasokan minyak, meskipun harga minyak dunia melonjak di tengah meningkatnya ketegangan terkait Iran.Mengutip reuters.com, aliansi produsen minyak tersebut mengesahkan rencana untuk mempertahankan tingkat produksi pada Maret, yang menjadi fase terakhir dari pembekuan pasokan selama tiga bulan.Delapan negara kunci OPEC+ yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia menegaskan kembali keputusan penundaan peningkatan produksi itu dalam konferensi video pada Minggu.Kebijakan tersebut pertama kali disepakati pada November lalu. Para delegasi menyebutkan, pembahasan terkait langkah setelah masa jeda kuartal pertama akan ditentukan dalam pertemuan berikutnya pada 1 Maret. Mereka enggan disebutkan namanya karena pembicaraan bersifat tertutup.“Cerita sebenarnya adalah apa yang tidak disampaikan OPEC+ mengenai kuartal kedua,” ujar Jorge Leon, Analis Rystad Energy yang pernah bekerja di Sekretariat OPEC.Menurutnya, ketidakpastian seputar Iran dan ketegangan dengan Amerika Serikat membuat OPEC+ memilih menjaga semua opsi tetap terbuka.Keputusan ini diambil meski harga minyak mentah sempat melampaui US$70 per barel di pasar London pekan lalu, setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran agar menyetujui kesepakatan nuklir baru atau menghadapi kemungkinan serangan militer.Secara historis, OPEC dan negara mitranya cenderung merespons risiko geopolitik dengan hati-hati, biasanya menunggu perubahan nyata pada pasokan sebelum mengambil langkah lanjutan.Secara teori, anggota aliansi masih memiliki sekitar 1,2 juta barel per hari kapasitas produksi yang ditahan sejak 2023 dan berpotensi dikembalikan.Arab Saudi sebagai pemimpin kelompok, bersama Uni Emirat Arab, menunjukkan sinyal ingin melanjutkan pemulihan produksi. Namun, efektivitas langkah tersebut masih dipertanyakan.Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan kelebihan pasokan minyak global mencapai rekor, seiring melambatnya pertumbuhan permintaan dan meningkatnya produksi dari negara pesaing OPEC seperti Amerika Serikat, Brasil, Kanada, dan Guyana.Sejumlah lembaga keuangan, termasuk JPMorgan Chase & Co. dan Morgan Stanley, menilai OPEC+ justru perlu memangkas produksi agar harga minyak tidak jatuh.Pada tahun lalu, delapan negara OPEC+ sempat meningkatkan produksi secara agresif untuk merebut kembali pangsa pasar global.Namun, pada November mereka sepakat menghentikan kenaikan produksi selama kuartal pertama dengan alasan penurunan musiman konsumsi bahan bakar.Meski demikian, harga minyak tahun ini terbukti cukup tangguh, didukung ketegangan di Iran serta gangguan pasokan di Kazakhstan, yang juga merupakan anggota aliansi.Ketidakpastian juga menyelimuti sektor minyak Venezuela, setelah Presiden Donald Trump menyatakan niatnya merevitalisasi industri energi negara tersebut pasca tumbangnya Nicolas Maduro.Bagi Arab Saudi, peningkatan produksi menjadi pedang bermata dua. Langkah itu membantu pertumbuhan ekonomi kerajaan pada 2025 mencapai level tertinggi dalam tiga tahun.Namun, penurunan harga minyak sebesar 18% tahun lalu memaksa Riyadh memangkas belanja proyek-proyek unggulan dan mencari sumber pendanaan alternatif. (DK)