BRICS menghapus dolar AS dalam perdagangan bijih besi

Kamis, 20 November 2025

image

TIONGKOK - Anggota BRICS, China, kini memanfaatkan impor bijih besi sebagai alat baru dalam geopolitik internasional, setelah sebelumnya memanfaatkan mineral tanah jarang.

Negara komunis ini mendorong penggunaan yuan Tiongkok sebagai satu-satunya mata uang untuk penyelesaian transaksi.

China tidak hanya mengekspor bijih besi, tetapi juga merupakan importir terbesar di dunia. Tahun lalu, China mengekspor bijih besi senilai US$2,94 miliar, sementara impor bijih besi mencapai $134 miliar dalam periode yang sama.

Kini, China mendorong penggunaan yuan Tiongkok dalam penyelesaian perdagangan bijih besi, dengan tujuan menggantikan peran dolar AS. Pemasok utama bijih besi ke China meliputi Australia dan rekan BRICS-nya, Brazil.

Dominasi China dalam impor bijih besi memungkinkannya menentukan dan mengatur syarat perdagangan dengan anggota BRICS maupun negara lain. Perusahaan-perusahaan takut menghadapi tekanan, karena China bisa menggunakan pengaruhnya untuk mencapai kepentingannya.

Sebagai contoh, China pernah sepenuhnya menghentikan impor kedelai dari AS sebagai balasan atas tarif yang diberlakukan pemerintahan Trump, yang menyebabkan kerugian besar bagi petani AS dan menambah tekanan politik bagi administrasi Trump.

Seperti dikutip watcher.guru, pemerintahan Xi Jinping berupaya meningkatkan prospek yuan Tiongkok dan mewujudkan internasionalisasi mata uang tersebut secara global.

China ingin menulis ulang kebijakan perdagangan dengan memperkenalkan mekanisme harga baru untuk bijih besi.

Laporan menyebutkan bahwa kontrak baru sedang dinegosiasikan antara pembeli milik negara dan perusahaan penambang China.

Pembeli kemungkinan berasal dari Australia atau anggota BRICS lain, dan masih belum menyetujui syarat pembayaran bijih besi dalam yuan Tiongkok yang diajukan China.

Jika negosiasi kontrak berhasil, anggota BRICS, China, akan menegaskan pembayaran bijih besi dalam yuan Tiongkok.

“Negosiasi kontrak berada dalam kebuntuan karena pembeli dan penjual belum mencapai kesepakatan mengenai harga dan mata uang penyelesaian,” kata seorang sumber pasar di Asia Tenggara kepada Fastmarkets.

“Ini bagian dari tren yang lebih luas, di mana China ingin mempromosikan penggunaan yuan Tiongkok di banyak aspek, tidak hanya di komoditas,” tambah seorang sumber industri bijih besi di Singapura. (DK)