S&P Global: Indeks PMI Manufaktur Indonesia naik
Senin, 02 Februari 2026

JAKARTA - Aktivitas sektor manufaktur Indonesia kembali menunjukkan penguatan pada awal 2026. Indikator Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global tercatat berada di level 52,6 pada Januari 2026, meningkat dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 51,2.
Dikutip bloombergtechnoz.com, capaian tersebut menandakan aktivitas manufaktur masih berada di zona ekspansi, karena PMI di atas level 50 mencerminkan pertumbuhan, bukan kontraksi. Dengan hasil ini, sektor manufaktur Indonesia telah bertahan di fase ekspansi selama enam bulan berturut-turut.
S&P Global mencatat peningkatan produksi dan pesanan baru menjadi pendorong utama penguatan PMI Januari. Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha meningkatkan pembelian bahan baku guna mengantisipasi permintaan yang lebih tinggi.
“Produksi maupun pemesanan baru (new orders) naik pada Januari. Sinyal positif ini mendorong dunia usaha untuk menambah pembelian bahan baku untuk melayani peningkatan permintaan,” tulis S&P Global dalam keterangan resminya.
Permintaan domestik masih menjadi penopang utama aktivitas manufaktur. Sebaliknya, kinerja ekspor tercatat masih tertekan dan melanjutkan tren penurunan selama lima bulan berturut-turut, seiring dampak kebijakan tarif.
Di sisi lain, produksi manufaktur terus meningkat selama tiga bulan beruntun. Pada Januari, pertumbuhan produksi tercatat sebagai yang kedua tertinggi dalam 11 bulan terakhir. Optimisme pelaku usaha juga menguat, tercermin dari ekspektasi bisnis 12 bulan ke depan yang mencapai level tertinggi sejak Maret 2025.
Namun demikian, S&P Global mencatat adanya penurunan jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur pada Januari, meski penurunannya dinilai relatif terbatas.
“Sektor manufaktur Indonesia membaik pada Januari, didorong oleh penguatan di sisi produksi dan new orders. Sekali lagi, ekspansi ini ditopang oleh ekonomi domestik. Dunia usaha meyakini bahwa permintaan yang kuat terlihat pada awal 2026, dan ini akan berlanjut sepanjang tahun,” ujar Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti.(DH)