Morgan Stanley: Penunjukan Kevin Warsh picu volatilitas treasury AS
Selasa, 03 Februari 2026

JAKARTA - Morgan Stanley menilai pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat berpotensi mengalami volatilitas yang lebih tinggi apabila Federal Reserve dipimpin oleh Kevin Warsh.Dalam pandangan bank investasi tersebut, berkurangnya komunikasi publik bank sentral di bawah kepemimpinan Warsh dapat memicu gejolak di pasar US Treasury.Seperti dikutip bloomberg.com, Kevin Warsh, yang dicalonkan Presiden Donald Trump untuk menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed pada Mei mendatang, pernah menjabat sebagai gubernur bank sentral AS pada periode 2006–2011.Berdasarkan kajian Morgan Stanley terhadap transkrip rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada masa itu, Warsh mendorong investor untuk membentuk pandangan sendiri mengenai pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan arah kebijakan moneter.Ia dinilai tidak ingin pasar terlalu bergantung pada pandangan resmi The Fed.“Kevin Warsh tidak menyukai pasar yang terpaku pada sudut pandang The Fed, dan ia tidak selalu akan menguatkan persepsi pasar jika berbeda dengan penilaiannya,” tulis analis Morgan Stanley, Matthew Hornbach dan Martin Tobias, dalam catatan tertanggal 30 Januari.Sepanjang setahun terakhir, fluktuasi pasar yang dipicu perubahan suku bunga AS cenderung mereda, meskipun imbal hasil Treasury tetap bergerak mengikuti dinamika pertumbuhan ekonomi, pasar tenaga kerja, dan inflasi. Stabilitas ini sebagian besar didorong oleh kejelasan serta konsistensi komunikasi arah kebijakan The Fed.Ketua The Fed Jerome Powell bahkan sempat menegaskan bahwa kebijakan moneter akan lebih efektif ketika publik memahami langkah dan alasan bank sentral.Setelah mempertahankan suku bunga bulan lalu, pelaku pasar memperkirakan perubahan suku bunga acuan baru akan terjadi paling cepat pada Juli.Sejak pencalonan Warsh, perhatian pelaku pasar lebih banyak tertuju pada pandangannya terkait neraca The Fed dan tingkat suku bunga yang dinilai tepat.Morgan Stanley melihat preferensi Warsh terhadap neraca yang lebih kecil berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang dibandingkan tenor pendek, sehingga memperlebar kemiringan kurva imbal hasil. (DK)