Perusahaan kripto ini menjelma menjadi pemain emas dan treasury besar

Selasa, 03 Februari 2026

image

JAKARTA - Penerbit stablecoin terbesar di dunia, Tether, diam-diam menjadi pemain besar di pasar keuangan global. Perusahaan kripto itu kini tercatat sebagai salah satu pemegang emas swasta terbesar sekaligus pembeli utama surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury).

Langkah ini menempatkan Tether sejajar dengan bank besar, manajer aset, hingga institusi keuangan negara dalam hal pengelolaan cadangan.

Dikutip aol.com, dalam laporan atestasi terbaru yang disusun firma akuntansi BDO, Tether mengungkapkan memiliki lebih dari US$122 miliar obligasi pemerintah AS secara langsung. Jika termasuk instrumen reverse repo semalam, total eksposurnya melampaui US$141 miliar. Angka tersebut menjadikannya salah satu pemegang utang AS non-pemerintah terbesar di dunia.

Tak hanya obligasi, perusahaan juga agresif menambah cadangan emas. Total kepemilikan emasnya diperkirakan mencapai 80–116 metrik ton, termasuk melalui produk emas digital XAUT. Sepanjang kuartal IV 2025, Tether menambah sekitar 27 ton di tengah lonjakan harga emas akibat ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi global.

Ekspansi neraca ini didorong pertumbuhan pesat stablecoin USDT. Sepanjang 2025, Tether menerbitkan hampir US$50 miliar token baru sehingga total pasokan beredar menembus US$186 miliar. Dana dolar yang masuk kemudian ditempatkan terutama pada surat utang jangka pendek AS dan aset likuid serupa, menghasilkan imbal hasil sekaligus menjaga kesiapan likuiditas untuk penebusan.

Model bisnis tersebut secara efektif menjadikan Tether pembeli signifikan Treasury bills, terutama di tenor pendek.

Namun, meningkatnya peran stablecoin di pasar obligasi pemerintah mulai memicu perhatian regulator. Studi Federal Reserve Bank of Kansas City menyebutkan permintaan Treasury dari stablecoin berpotensi mengalihkan dana dari simpanan bank. Karena penerbit stablecoin tidak menyalurkan kredit langsung ke sektor riil, pergeseran dana besar-besaran dikhawatirkan dapat mengurangi ketersediaan pembiayaan ekonomi.

Sejumlah aturan baru di AS, termasuk GENIUS Act, kini mengarahkan cadangan stablecoin agar ditempatkan pada aset pemerintah seperti Treasury, yang secara tidak langsung memperkuat peran perusahaan kripto sebagai pembeli utang negara.

Meski masih kecil dibandingkan total pasar Treasury AS senilai sekitar US$26 triliun, pertumbuhan pesat stablecoin membuat analis memperkirakan sektor ini bisa mencapai skala triliunan dolar dalam satu dekade ke depan. Neraca Tether pun menjadi sinyal bahwa perusahaan kripto mulai bertransformasi menjadi bagian penting dari sistem pendanaan keuangan global.(DH)