HSBC: euforia AI berlebihan, pasar kredit rawan koreksi
Selasa, 03 Februari 2026

JAKARTA - HSBC Bank mengingatkan investor di pasar kredit, agar mewaspadai potensi risiko penurunan yang berkaitan dengan “euforia AI”, setelah optimisme teknologi ini, mendorong premi imbal hasil ke level terendah dalam beberapa dekade.
Dalam laporan terbaru, ahli strategis HSBC Bank Song Jin Lee dan Tom Russell, menilai sebagian besar pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat (AS) tak lepas dari perkembangan AI.
Baik kaitan secara langsung melalui belanja investasi, maupun secara tidak langsung dari lonjakan valuasi saham AI, seperti dilansir Bloomberg.
“Setiap kekecewaan terhadap prospek AI berpotensi merambat ke pasar kredit melalui berbagai saluran,” tulis keduanya.
Spread obligasi korporasi saat ini mendekati level paling ketat, sejak menjelang krisis keuangan global 2007.
Sementara investor dinilai mengabaikan risiko geopolitik, serta memburu imbal hasil yang masih relatif tinggi secara historis. Namun meski didukung kondisi makroekonomi yang solid, ruang kenaikan bagi investor obligasi dinilai semakin terbatas.
Di sisi lain, tekanan juga datang dari aksi raksasa teknologi yang menerbitkan obligasi puluhan miliar dolar AS, sehingga berpotensi mendorong pelebaran spread kredit.
HSBC menilai harga obligasi telah sepenuhnya mencerminkan prospek yang jinak bagi kelas aset ini, seiring fundamental emiten korporasi di negara maju yang relatif sehat.
Namun, pergerakan premi tersebut dinilai tidak mencerminkan sempitnya basis optimisme yang menopang pasar saat ini.
Oleh karena itu, HSBC mendorong investor untuk mempertimbangkan strategi diversifikasi, dengan mengurangi eksposur terhadap obligasi teknologi AS.
Bank multinasional ini juga menilai sebagian segmen kredit di Eropa lebih menarik, karena eksposur terhadap industri AI relatif lebih kecil.
Menurut HSBC, potensi keuntungan lanjutan dari penguatan ekonomi AS dan perkembangan AI, akan lebih banyak dinikmati pemegang saham dibandingkan kreditor obligasi.
Bahkan jika terjadi kejutan positif dari industri AI, kredit swasta AS tetap memiliki eksposur besar terhadap perusahaan teknologi dengan imbal hasil tinggi, yang model bisnisnya bisa tertekan.
HSBC juga menambahkan bahwa surat utang berperingkat di Asia berpotensi memberikan perlindungan, ketika sentimen risiko memburuk dan volatilitas akibat kebijakan fiskal meningkat.
Peringatan serupa turut disampaikan oleh Goldman Sachs. Kepala riset alokasi aset Goldman Sachs Group Inc., Christian Mueller-Glissmann, menyebut kredit sebagai “mata rantai terlemah” di pasar saat ini.
Ia juga menyoroti risiko pelepasan posisi berbasis imbal hasil (carry unwind), khususnya yang terkait dengan dolar AS dan yen Jepang.
Ia menilai saat ini peringkat aset kredit di level underweight, berbeda dengan pasar saham yang berada di level overweight seiring prospek pertumbuhan laba yang cukup solid. (DK/KR)