Penjualan melemah, saham BYD tekan sektor otomotif China

Selasa, 03 Februari 2026

image

JAKARTA - Saham BYD Co Ltd anjlok ke level terendah dalam setidaknya satu tahun pada Senin, memimpin aksi jual saham produsen otomotif China setelah laporan penjualan Januari menunjukkan pelemahan.Seperti dikutip reuters.com, penurunan ini dipicu perubahan skema subsidi kendaraan yang kini dinilai memberatkan merek mobil berharga murah.Aksi jual tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor bahwa industri otomotif China tengah memasuki fase perlambatan berkepanjangan, seiring melemahnya permintaan domestik dan berkurangnya dukungan kebijakan pemerintah.“Kami menilai investor terkejut oleh besarnya penurunan penjualan domestik, yang mengindikasikan hilangnya pangsa pasar secara signifikan,” ujar Eugene Hsiao, Head of China Equity Strategy di Macquarie Capital.Ia menambahkan, pemulihan permintaan dalam negeri diperkirakan belum akan terjadi secara berarti hingga BYD meluncurkan model baru dengan nilai yang lebih kompetitif dibanding para pesaingnya.Tekanan terhadap produsen mobil kian meningkat di tengah perang harga yang menggerus margin, menyempitnya keunggulan teknologi antar pemain, serta meredupnya harapan bahwa ekspor mampu menutupi lemahnya penjualan domestik.Saham BYD yang tercatat di Hong Kong ditutup melemah 6,9% ke level HK$91, menjadi penurunan harian terbesar sejak 26 Mei 2025, setelah sempat menyentuh posisi terendah sekitar satu tahun.Di bursa Shenzhen, saham BYD (002594.SZ) turun 4,2% ke 87,05 yuan, terendah sejak September 2024.Sejumlah produsen otomotif China lainnya turut tertekan. Saham Geely, Leapmotor, Xiaomi, dan Xpeng ditutup melemah di kisaran 1,2% hingga 6,8%.Asosiasi Mobil Penumpang China (CPCA) memperkirakan penjualan mobil nasional akan stagnan tahun ini dan berpotensi menjadi yang terburuk sejak 2020.CPCA juga menilai lonjakan ekspor kendaraan listrik pada 2025 sulit dipertahankan.Pemerintah China memang memperpanjang subsidi mobil hingga 2026, namun skemanya diubah dari subsidi tetap menjadi berbasis harga kendaraan.Perubahan ini berpotensi mengurangi insentif bagi mobil berharga rendah yang selama ini mendominasi pasar.BYD, yang sebelumnya terdongkrak seri Dynasty dan Ocean berharga terjangkau, mulai kehilangan daya saing di segmen di bawah US$25.000 akibat menipisnya keunggulan teknologi dibanding rival seperti Geely dan Leapmotor.Pertumbuhan penjualan BYD pada 2025 tercatat sebagai yang paling lambat dalam lima tahun terakhir.Pada Januari, BYD bahkan kalah penjualan dari Geely Auto setelah mencatat penurunan penjualan selama lima bulan berturut-turut.Kinerja Januari tersebut menjadi yang terlemah bagi BYD sejak 2020 saat pandemi COVID-19 melanda. Sementara itu, penjualan Geely relatif stagnan, dan Leapmotor mencatat pertumbuhan pengiriman sebesar 27%.Menghadapi lemahnya permintaan domestik, BYD menyiapkan berbagai inovasi produk pada 2026. Pada Januari, perusahaan meluncurkan versi terbaru sejumlah model plug-in hybrid dengan baterai jarak jauh.Namun, penjualan mobil plug-in hybrid, yang menyumbang lebih dari separuh total penjualan BYD—tetap turun 28,5% pada Januari, melanjutkan tren penurunan setelah melemah 7,9% sepanjang 2025.BYD juga menggenjot ekspansi luar negeri sebagai penopang pertumbuhan. Penjualan di luar China melonjak 43,3% pada Januari dan menyumbang 48% dari total pengiriman bulanan.Perusahaan menargetkan ekspor 1,3 juta kendaraan pada 2026, naik sekitar 24% dari 2025, meski lebih rendah dari target sebelumnya hingga 1,6 juta unit.Sejak Mei 2025, saham BYD di Hong Kong telah merosot hampir 40%. Berkshire Hathaway, milik investor legendaris Warren Buffett, yang menjadi pemegang saham BYD sejak 2008, sepenuhnya melepas kepemilikannya di perusahaan tersebut pada tahun lalu. (DK)