Permintaan global rendah, ekspor batu bara RI anjlok 19,7%

Selasa, 03 Februari 2026

image

JAKARTA - Kinerja ekspor batu bara Indonesia sepanjang 2025 turun 19,7% secara tahunan, dengan total nilai impor US$24,48 miliar menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).

Nilai ekspor itu setara Rp411,14 triliun (asumsi kurs Rp16.795 per dolar AS), sementara nilai ekspor batu bara tahun sebelumnya mencapai US$30,49 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan ekspor batu bara Indonesia turun signifikan karena rendahnya permintaan dari negara, termasuk China dan India.

BPS mencatat volume ekspor batu bara Indonesia 390,93 juta ton sepanjang Januari–Desember 2025, turun 3,66% dari 405,76 juta ton pada tahun sebelumnya.

“Penurunan tertinggi itu terjadi pada batu bara,” kata Ateng, dalam konferensi pers yang digelar Senin (2/2) kemarin.

Ateng menambahkan, penurunan ekspor batu bara juga ikut menekan total ekspor HS27, yang merupakan kode klasifikasi untuk bahan bakar mineral termasuk batu bara.

Dua pasar utama Indonesia untuk ekspor komoditas HS27, yaitu China dan India, mencatat penurunan masing-masing 24,59% dan 23,25%.

Meskipun demikian, Ateng menambahkan bahwa komoditas unggulan lain justru mencatat pertumbuhan pada 2025. Ekspor besi dan baja meningkat 8,41% menjadi US$27,97 miliar, sedangkan ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya melonjak 21,83% menjadi US$24,42 miliar.

Secara keseluruhan, neraca perdagangan Indonesia tetap mencatat kinerja positif pada 2025, ditutup dengan surplus US$41,05 miliar didukung ekspor nonmigas.

Namun sektor migas masih membebani neraca dagang Indonesia, dengan defisit US$19,7 miliar. (DH/KR)