The Fed percepat akhiri quantitative tightening, mengapa?
Jumat, 21 November 2025

JAKARTA - Federal Reserve memutuskan untuk menghentikan penurunan neraca (quantitative tightening/QT) atau pengetatan moneter lebih cepat dari perkiraan pasar, keputusan yang mendapat dukungan luas dari hampir seluruh pejabat bank sentral, menurut risalah rapat FOMC 28–29 Oktober yang dirilis Rabu.
Hampir semua pembuat kebijakan menyetujui penghentian QT mulai 1 Desember 2025, sementara satu pejabat yang meminta penghentian segera Gubernur Stephen Miran mencatatkan suara berbeda.
Dikutip reuters.com (20/11), QT yang dimulai pada 2022 dirancang untuk menyerap kelebihan likuiditas pascapandemi. The Fed menilai kondisi suku bunga jangka pendek dan kebutuhan pinjaman bank telah menunjukkan sistem berada pada level cadangan yang memadai sebelum rapat Oktober.
Keputusan menghentikan QT muncul lebih cepat dari ekspektasi sebelumnya, termasuk survei Fed New York yang memprediksi runoff baru berakhir pada kuartal I 2026.
Risalah rapat juga menunjukkan bahwa The Fed mulai mempertimbangkan pembelian obligasi pemerintah AS (US Treasury Bills) secara teknis untuk menjaga likuiditas, serta rencana mengalihkan sebagian portofolio ke Treasury bills jangka pendek demi fleksibilitas pengelolaan pasar.
Penghentian QT membuat neraca The Fed tetap jauh di atas level pra-pandemi. Meski sejumlah pejabat, termasuk Presiden Fed Kansas City Jeffrey Schmid, mengkhawatirkan efek neraca besar terhadap pasar “mendistorsi harga durasi dan kemiringan kurva imbal hasil” mereka tetap mendukung penutupan QT.
Pimpinan Fed lainnya, seperti Michelle Bowman dan Beth Hammack, menilai ukuran neraca saat ini sesuai dengan kerangka suku bunga berbasis cadangan yang digunakan The Fed.
Mantan Presiden Fed New York William Dudley juga menilai ukuran cadangan di The Fed tidak menjadi masalah. Namun Miran menekankan bahwa penurunan neraca lebih lanjut mungkin bisa dilakukan di masa depan jika regulasi perbankan dilonggarkan agar sistem lebih fleksibel.
Ukuran besar neraca The Fed juga menjadi bahan perdebatan politik, termasuk kekhawatiran soal potensi tekanan inflasi dan kerugian finansial sekitar US$240 miliar yang harus ditutup sebelum bank sentral kembali menyetor keuntungan ke Departemen Keuangan.
Sebelumnya sejumlah analis sudah memperkirakan bank sentral Amerika Serikat itu akan kembali melakukan ekspansi neraca (quantitative easing/QE)) atau injeksi likuiditas ke sistem perekonomian Amerika dalam waktu dekat.
Kekhawatiran terhadap kondisi likuiditas di pasar uang mendorong ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan segera mengakhiri kebijakan quantitative tightening (QT) atau pengetatan neraca. (DH)