Dampak 'MSCI Effect' belum memudar, investor cermati pelemahan rupiah

Rabu, 04 Februari 2026

image

JAKARTA - Anjloknya pasar saham menjadi sinyal terbaru tekanan yang dihadapi pasar modal Indonesia, yang kini terancam tersisih dari arus dana global ke negara berkembang.

Seperti dikutip reuters, Senin (2/2), investor kian berhati-hati terhadap ekonomi terbesar Asia Tenggara itu di tengah kebijakan Presiden Prabowo Subianto. Indeks saham utama Indonesia telah merosot hampir 12%, atau lebih dari US$80 miliar nilai pasar, sejak MSCI memperingatkan pekan lalu bahwa Indonesia berisiko diturunkan statusnya menjadi pasar frontier akibat persoalan kepemilikan saham dan transparansi perdagangan.

Janji reformasi serta pengunduran diri sejumlah pejabat senior di otoritas pasar dan bursa belum mampu menenangkan investor. Pelemahan rupiah justru memperkuat kekhawatiran akan masalah yang lebih mendasar.

Minat investor asing terhadap Indonesia terus menurun, dipicu kekhawatiran bahwa agenda belanja besar dan tata kelola yang dinilai terlalu akomodatif dapat menggerus kemajuan ekonomi yang dibangun sejak Krisis Keuangan Asia.

Kepemilikan asing di pasar obligasi kini hanya sedikit di atas 13%, turun tajam dari hampir 40% pada 2019.

Situasi ini terjadi pada saat yang kurang menguntungkan, karena dana global justru deras mengalir ke pasar berkembang seiring penurunan suku bunga AS, mendorong lonjakan aset di Amerika Latin.

Arah kebijakan pemerintah dinilai sebagian investor mengingatkan pada era kekuasaan kuat masa lalu. Belanja militer diperluas, peran militer dalam pemerintahan meningkat, dan keputusan personalia di bank sentral serta pengunduran diri menteri keuangan, menambah kekhawatiran soal independensi kebijakan.

Rupiah sempat menyentuh rekor terlemah di level 16.985 per dolar AS pada Januari, kontras dengan penguatan mata uang dan pasar saham di negara berkembang lain seperti Brasil dan Peru.

Data menunjukkan investor asing mencatatkan arus keluar bersih besar dari saham dan obligasi Indonesia sepanjang 2025 dan awal tahun ini.

Minat dana global terhadap saham Indonesia juga turun signifikan, dengan jumlah manajer investasi yang kelebihan bobot (overweight) pada aset Indonesia merosot tajam.

Salah satu sorotan di pasar saham adalah praktik “goreng-goreng saham”, yakni transaksi antar pihak terkait yang mendorong harga saham secara artifisial.

Pemerintah dan otoritas pasar telah mengusulkan peningkatan transparansi kepemilikan serta kenaikan porsi saham beredar bebas, namun investor meragukan efektivitas penerapannya.

Di pasar obligasi, tekanan datang dari program belanja populer dan pertahanan yang mengakibatkan batas defisit anggaran bisa melewati 3% dari PDB.

Meski defisit masih relatif rendah secara global, investor menuntut komitmen kuat pada disiplin fiskal dan kredibilitas bank sentral.

Indonesia memang masih ditopang surplus perdagangan dan cadangan devisa yang besar, sehingga risiko pelarian modal besar-besaran dinilai kecil.

Namun, pelaku pasar memperingatkan bahwa sentimen negatif yang berlanjut dapat menjadi faktor penekan utama bagi aset keuangan Indonesia. (DK)