Penambang batu bara hentikan ekspor spot, akan picu PHK?

Rabu, 04 Februari 2026

image

JAKARTA – Penambang batu bara Indonesia menghentikan ekspor di pasar spot setelah pemerintah mengusulkan pemangkasan produksi yang signifikan.

Kondisi ini, seperti dikutip reuters, Rabu (4/2), menyulitkan pembeli di Asia untuk memperoleh pasokan dari Indonesia, eksportir batu bara terbesar dunia, menurut pelaku industri pada Selasa.

Pasar spot batu bara merujuk pada transaksi jual beli batu bara untuk pengiriman segera atau jangka pendek, dengan harga yang ditentukan saat transaksi berlangsung dan mengikuti kondisi pasar terkini. Berbeda dengan kontrak jangka panjang, harga di pasar spot bersifat fluktuatif dan sangat sensitif terhadap perubahan pasokan dan permintaan.

Pemerintah bulan lalu menetapkan kuota produksi bagi perusahaan tambang besar yang 40% hingga 70% lebih rendah dibandingkan level produksi 2025.

Kebijakan tersebut merupakan bagian dari rencana pemerintah untuk memangkas produksi hampir seperempat guna mendorong kenaikan harga batu bara global.

Namun, Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) menentang kebijakan ini karena dinilai berpotensi memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) dan penutupan tambang.

Wakil Ketua APBI, H. Kristiono, mengatakan produksi saat ini masih berjalan, tetapi belum pada kapasitas penuh. Pengiriman batu bara juga dibatasi hingga ada keputusan final terkait kuota produksi pemerintah. “Untuk saat ini, tidak ada kargo batu bara yang ditawarkan di pasar spot,” ujarnya.

Sementara itu, kontrak jangka panjang masih tetap dipenuhi. Meski demikian, sejumlah penambang mulai mempertimbangkan pembatalan kontrak dengan alasan force majeure atau keadaan di luar kendali.

Kebijakan ini menjadi gangguan pasokan terbaru akibat regulasi, di tengah melemahnya permintaan dari pembeli utama seperti China dan India. Sebelumnya, larangan ekspor singkat pada 2022 sempat memicu lonjakan harga batu bara global.

Data Kpler menunjukkan Indonesia menyumbang sekitar setengah dari total ekspor batu bara termal dunia, yang mencapai sekitar 960 juta ton pada 2025.

Pemerintah kini mempertimbangkan pemangkasan produksi sekitar 24% menjadi 600 juta ton, meskipun ekspor tahun lalu saja telah melampaui 510 juta ton.

Para pedagang memperkirakan pembatasan ini akan memperketat pasokan dan mendorong kenaikan harga.

Menurut pedagang asal India, kargo spot batu bara Indonesia bahkan tidak tersedia, meski ditawarkan dengan premi US$1–US$2 per ton di atas harga pasar.

Harga batu bara berkalori rendah 4.200 kcal/kg, yang mendominasi ekspor Indonesia, telah naik sekitar 7% pada Januari.

Jika produksi dipangkas hingga 20%, harga batu bara jenis ini diperkirakan dapat melonjak 40% hingga 70%, sementara batu bara berkualitas lebih tinggi berpotensi naik 10% hingga 20%.

Meski demikian, pelaku industri menilai preferensi pembeli terhadap batu bara berkualitas lebih tinggi dari pemasok lain, serta permintaan yang masih lemah dari China dan India, dapat membatasi kenaikan harga lebih lanjut. (DK)