Harga emas dan perak rebound, dorong saham tambang dan ETF logam mulia

Rabu, 04 Februari 2026

image

JAKARTA - Harga emas dan perak bangkit kembali pada Selasa setelah mengalami aksi jual besar-besaran, mendorong saham tambang global serta dana berbasis logam mulia bergerak naik.

Harga emas spot naik sekitar 5,6% menjadi US$4.930,97 per ons, sementara kontrak berjangka emas menguat 6,4% ke kisaran US$4.949.

Seperti dikutip cnbc.com, harga perak di pasar spot melonjak lebih dari 6% ke sekitar US$84,29 per ons, sedangkan kontrak berjangka perak melonjak hampir 10%.

Pemulihan ini terjadi setelah kejatuhan tajam pada awal pekan, menyusul penurunan hampir 10% harga emas pada Jumat dan anjloknya harga perak hingga 30%—penurunan harian terburuk sejak 1980.

Seiring kenaikan harga logam, saham tambang dan ETF di berbagai bursa dunia turut mencatatkan penguatan.

Di London, saham Rio Tinto naik 2,2%, Anglo American lebih dari 3%, Antofagasta melonjak 2,5%, Fresnillo, produsen perak terbesar dunia, naik 3,1%.

Di Amerika Serikat, ProShares Ultra Silver ETF melonjak 15% sebelum pembukaan pasar, sementara abrdn Physical Silver Shares ETF dan iShares Silver Trust masing-masing naik sekitar 8,3%.

Saham emiten tambang AS juga menguat, dengan Endeavour Silver naik 7,5%, Coeur Mining 7,7%, serta Hecla Mining dan First Majestic Silver sekitar 8%.

Analis menilai pemulihan ini terjadi saat investor menilai ulang apakah kejatuhan sebelumnya mencerminkan perubahan struktural atau sekadar reaksi berlebihan terhadap faktor jangka pendek.

Deutsche Bank menyebut aksi jual tersebut dipicu katalis sementara, meski skalanya memunculkan pertanyaan soal posisi spekulatif pasar.

Menurut bank tersebut, fundamental investasi emas dan perak tetap solid. Pandangan serupa disampaikan Barclays, yang menilai permintaan emas masih kuat di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan.

Sementara itu, volatilitas perak dinilai lebih ekstrem karena ukuran pasarnya yang lebih kecil dan tingginya partisipasi investor ritel.

Meski demikian, analis menegaskan permintaan industri—terutama dari sektor energi surya, pusat data, dan infrastruktur AI, tetap menjadi penopang jangka panjang bagi harga perak. (DK)