Ada saham di BEI mencatat PBV dan PE di atas 1.000, anomali valuasi?

Rabu, 04 Februari 2026

image

JAKARTA - Sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperdagangkan dengan valuasi jauh di atas rata-rata pasar. Kondisi ini tercermin dari tingginya rasio Price to Book Value (PBV) dan deviasi Price to Earnings (PE) pada saham-saham tersebut, dua indikator yang umum digunakan untuk menilai mahal atau tidaknya harga saham serta tingkat volatilitas valuasi.

Situasi tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap faktor fundamental, menyusul sorotan MSCI terkait transparansi data kepemilikan saham. Pelaku pasar pun semakin selektif dalam menilai kewajaran harga.

Implikasinya, seperti dikutip CNBCIndonesia, adalah analisis fundamental menjadi instrumen vital bagi investor pasar modal saat ini untuk menilai kewajaran harga sebuah saham di pasar. Saat ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan sejumlah emiten yang diperdagangkan dengan valuasi premium, jauh melampaui rata-rata industri.

Berdasarkan data pasar terkini, terdapat sepuluh saham yang memiliki rasio Price to Book Value (PBV) dan Mean PE Standard Deviation (Standar Deviasi PE 5 Tahun) yang sangat tinggi.

Tingginya angka deviasi PE ini mengindikasikan bahwa emiten tersebut memiliki riwayat fluktuasi valuasi laba yang sangat lebar dalam periode lima tahun terakhir, yang mencerminkan volatilitas ekspektasi pasar.

Posisi teratas dalam daftar valuasi tertinggi ditempati oleh PT Aracord Nusantara Group Tbk (RONY). Emiten ini mencatatkan angka yang sangat ekstrem pada kedua indikator utama.

Dengan harga pasar Rp3.220 per lembar, RONY memiliki PBV sebesar 1.523,71 kali. Artinya, pasar menghargai perusahaan ini ribuan kali lipat di atas nilai aset bersihnya.

Selain itu, volatilitas valuasinya tercermin dari Mean PE Standard Deviation yang mencapai angka 10.624, jauh meninggalkan emiten lainnya dalam daftar ini.

Fenomena menarik terlihat pada  PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY) dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII).

CLAY, meskipun diperdagangkan dengan harga nominal relatif rendah di level Rp2.780, memiliki valuasi PBV tertinggi kedua sebesar 730,15 kali.

Sebaliknya, DCII mencatatkan harga nominal tertinggi di angka Rp197.000 per lembar. Namun, secara rasio PBV, DCII berada di level 122,65 kali, dengan standar deviasi PE yang jauh lebih rendah (308,38) dibandingkan RONY atau POLU.

Berikut adalah rincian data sepuluh perusahaan dengan valuasi pasar tertinggi berdasarkan indikator PBV dan PE Standard Deviation:

 

No

Emiten

Harga (Rp)

PE 

PBV

1

RISE

4,280

508.18

32.19

2

FILM

12,325

421.65

40.74

3

CYBR

1,640

650.37

58.92

4

POLU

18,275

1777.36

100.95

5

BREN

8,325

559.53

108.34

6

DCII

197,000

308.38

122.65

7

MPRO

11,000

711.33

134.68

8

SRAJ

16,000

1057.74

135.33

9

CLAY

2,780

303.96

730.15

10

RONY

3,220

10624.25

1,523.71

Implikasi Risiko

Kombinasi antara PBV yang tinggi dan standar deviasi PE yang lebar menuntut kewaspadaan lebih dari para pelaku pasar. Valuasi premium tersebut umumnya didorong oleh optimisme pasar yang agresif terhadap pertumbuhan masa depan perusahaan.

Apabila realisasi kinerja fundamental emiten tidak mampu memenuhi ekspektasi tinggi tersebut, terdapat potensi risiko koreksi harga yang signifikan menuju nilai wajarnya.

Oleh karena itu, investor disarankan untuk meninjau kembali profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi pada saham dengan karakteristik valuasi ekstrem ini.

Menurut seorang petinggi perusahaan sekuritas, sudah saatnya otoritas bursa maupun OJK meneliti saham saham tersebut dengan cermat. "Karena masalah utama dari bursa Indonesia dan respon MSCI adalah kredibilitas. Jika saham saham yang aneh secara finansial didiamkan saja, seolah praktik semacam ini dibolehkan."

Masalah utama, lanjutnya,  ada emiten dengan PBV ekstrem, PE volatility ekstrem dibarengi dengan fundamental disclosure yang terbatas

Bagi MSCI dan investor global, lanjut dia, isu utama bukan harga mahal. Melainkan apakah pasar membiarkan anomali struktural tanpa governance response

Jika saham dengan karakteristik valuasi finansial tidak rasional, likuiditas semu, kepemilikan tidak transparan dibiarkan tanpa regulatory signaling, lanjut dia, maka risiko confidence discount terhadap bursa saham Indoensia meningkat. "Indonesia berisiko dipersepsikan sebagai market with weak price discipline." (DH)