KRAS cetak laba US$402 juta tahun 2025, laba terkerek di sesi II
Rabu, 04 Februari 2026

JAKARTA – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) optimistis mengembalikan kinerja gemilang pada tahun 2026 mengikuti realisasi laba bersih tahun 2025 sebesar US$402 juta. Hal itu disampaikan Muhamad Akbar, Direktur Utama KRAS dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR di Jakarta, Rabu (4/2).
Dia menyampaikan bahwa KRAS pernah meraih laba setelah restrukturisasi pada tahun 2019, namun merugi setelah terjadi kebakaran pabrik Hot strip Mill (HSM) 1 di tahun 2023.
“Kami luruskan bahwa KRAS ini bukan tidak pernah tidak untung. KRAS memulai restrukturisasi tahun 2019 dengan melakukan master restructuring agreement (MRA) dan tahun 2021 mencetak laba US$44 juta dan laba tahun 2022 sebesar US$23 juta,” katanya.
Menurut dia, kerugian KRAS setelah kebakaran pabrik HSM 1 pada 2023, karena perbaikannya tertunda dua tahun dari jadwal semula selama 6 bulan.
Namun pada 28 Desember 2024, katanya, KRAS telah kembali memproduksi gulungan baja perdana (first coil) dari pabrik HSM 1. Sehingga di tahun 2025, KRAS mencatatkan laba (unaudited report) sebesar US$402 juta.
Terkait dengan pertanyaan masyarakat alasan KRAS belum meraup untung besar, Akbar menyampaikan bahwa masalah tersebut harus dilihat dari sudut pandang yang menyeluruh (helicopter view).
“China negara yang unstoppable untuk tidak bisa disaingi karena karena produksi bajanya mencapai 1,6 miliar ton per tahun, sementara produksi nasional kita 18 juta ton per tahun, di mana utilisasi hanya kurang 60% sehingga ini tidak setara membandingkan baja nasional tidak bisa bersaing dengan baja murah asing,” katanya.
Dia menyampaikan lewat transformasi yang dilakukan KRAS, dari aspek pembenahan internal perusahaan. Secara eksternal dukungan lewat regulasi, terutama trade remedies, Biaya Masuk Anti Dumping (BMAD), tentu harus ada keberpihakan ke industri baja nasional.
“KRAS tidak stand alone, tapi sebagai payung besar dari industry baja nasional. Pada saat sekarat, tentu industri nasional di sektor hilir akan lebih sekarat lagi,” katanya.
Di sisi lain, saham KRAS terkerek 3,11% atau Rp10 menjadi Rp332 pada sesi II pukul 15.05 WIB, Rabu (4/2). Dalam sepekan sahamnya naik 9,21% atau Rp28 per saham. (LK)