Kompensasi Elon Musk berisiko bebani Tesla hingga US$26 miliar
Jumat, 21 November 2025

JAKARTA – Paket kompensasi baru Tesla senilai US$1 triliun untuk Elon Musk kembali membuka risiko lama: sengketa hukum atas paket gaji Musk tahun 2018, yang bisa menekan laba Tesla selama bertahun-tahun.
Mengutip reuters.com (20/11), Mahkamah Agung Delaware akan segera memutuskan banding Tesla atas pembatalan paket kompensasi 2018. J
ika banding ditolak, Tesla harus mencatat biaya sekitar US$26 miliar untuk paket pengganti—dibangun dari harga saham yang jauh lebih tinggi. Beban ini harus dibukukan hingga 2027 dan setara dengan lebih dari setengah laba bersih Tesla sejak 2019.
Tekanan ini datang saat laba Tesla sudah melemah akibat turunnya penjualan mobil listrik, berakhirnya subsidi, dan membesarnya investasi proyek ambisius seperti robot humanoid. Meski tidak memengaruhi arus kas, lonjakan biaya kompensasi saham tetap akan menekan profit.
Brian Dunn dari Cornell University menilai penurunan laba akibat paket kompensasi tersebut sebagai bukti dewan Tesla tidak menjalankan praktik fidusia yang wajar.
Menurut dia,, langkah itu pada dasarnya menyembunyikan transfer kekayaan dalam jumlah besar dari para pemegang saham ke pemegang saham tunggal terbesar: Elon Musk.
Jika Tesla menang banding, perusahaan tidak perlu menanggung biaya tambahan. Namun jika kalah, beban US$3,25 miliar per kuartal akan menggerus profit, melebihi kinerja banyak kuartal Tesla sejak 2019.
Di luar sengketa 2018, paket gaji terbaru Musk juga berpotensi memicu biaya miliaran dolar jika target-target awal yang dinilai relatif mudah tercapai.
Tesla berargumen paket itu dirancang untuk tonggak-tonggak penting yang dicapai untuk mendarat di Mars. Namun, laporan sebelumnya menemukan bahwa beberapa target dalam paket itu ternyata tidak terlalu berdampak pada fundamental bisnis Tesla.
Kenaikan jumlah saham untuk Musk juga membuat kepemilikan pemegang saham lain terdilusi.
“Tidak diragukan lagi, para pemegang saham dirugikan,” ujar pengacara korporasi Schuyler Moore.
Namun, ia menilai pasar mungkin tetap tidak peduli karena valuasi Tesla selama ini lebih digerakkan oleh janji-janji Musk daripada kinerja keuangan. “Tidak ada yang peduli, karena perusahaan ini hidup di dunia fantasi,” kata Moore. (DH)