Pasar hadapi kurva imbal hasil AS makin curam di masa Kevin Warsh?

Kamis, 05 Februari 2026

image

WASHINGTON – Investor semakin agresif memasang taruhan pada kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang Amerika Serikat dan kurva imbal hasil yang makin menanjak. Tren ini didorong ekspektasi bahwa Ketua Federal Reserve berikutnya, Kevin Warsh, akan mendorong pemangkasan suku bunga sambil memperkecil neraca bank sentral AS.

Preferensi Warsh terhadap neraca The Fed yang jauh lebih kecil—yang saat ini bernilai sekitar US$6,59 triliun—mengindikasikan berkurangnya peran bank sentral sebagai pembeli obligasi pemerintah AS. Kondisi tersebut berpotensi menekan permintaan terhadap Treasury.

Seperti dikutip dari Reuters, langkah ini dapat memperketat kondisi keuangan karena The Fed tidak lagi menyuntikkan likuiditas ke pasar melalui pembelian aset.

Pengurangan reinvestasi dan pembelian obligasi oleh The Fed akan menambah pasokan Treasury di pasar. Peningkatan pasokan ini cenderung mendorong kenaikan imbal hasil jangka panjang dan membuat kurva imbal hasil semakin curam.

Menurut Chief Investment Officer North Star Investment Management, Eric Kuby, penyusutan neraca The Fed berpotensi mengembalikan kurva imbal hasil ke pola normal yang positif, seperti sebelum krisis keuangan global.

Kurva imbal hasil—yang mencerminkan selisih antara suku bunga jangka pendek dan jangka panjang—umumnya menanjak ketika investor mengkhawatirkan inflasi serta pelebaran defisit fiskal.

Kenaikan imbal hasil jangka panjang secara langsung berdampak pada meningkatnya biaya pinjaman di seluruh perekonomian, mulai dari kredit pemilikan rumah, obligasi korporasi, hingga pembiayaan ekuitas.

Sementara itu, imbal hasil jangka pendek diperkirakan tetap rendah di bawah kepemimpinan Warsh, seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga. Kondisi ini semakin mempertegas kemiringan kurva imbal hasil.

Meski dikenal sebagai sosok hawkish saat menjabat sebagai gubernur The Fed pada 2006–2011, Warsh belakangan dinilai lebih dovish. Ia juga dipandang sejalan dengan harapan Presiden Donald Trump yang menginginkan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Namun, kurva imbal hasil Treasury sebenarnya sudah mulai menanjak bahkan sebelum Trump menominasikan Warsh sebagai pengganti Jerome Powell. Tren tersebut dipicu kekhawatiran inflasi serta potensi lonjakan penerbitan utang akibat defisit fiskal yang melebar.

Spread imbal hasil obligasi AS tenor dua dan 10 tahun sempat menyempit pada Selasa, setelah sehari sebelumnya menyentuh 72,70 basis poin—level tertinggi sejak April—tak lama setelah pengumuman tarif global oleh Trump.

Warsh juga menyatakan bahwa peningkatan produktivitas yang didorong kecerdasan buatan bersifat disinflasioner. Pandangan ini dinilai memberi ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Pasar berjangka suku bunga AS saat ini masih memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin tahun ini, dengan pemangkasan pertama diproyeksikan terjadi pada pertemuan Juni.

Meski demikian, analis menyoroti potensi ketegangan antara upaya mengecilkan neraca The Fed dan target menurunkan suku bunga jangka panjang.

Jika neraca menyusut sementara imbal hasil jangka panjang tetap tinggi, premi jangka waktu (term premium) dapat bertahan atau bahkan meningkat. Kondisi ini berisiko menghambat pelonggaran kondisi keuangan.

“Itu kebijakan yang sulit dijalankan. Satu kebijakan bersifat dovish seperti pemangkasan suku bunga, sementara kebijakan lain justru mendorong kenaikan imbal hasil melalui penyusutan neraca,” kata Jim Barnes dari Bryn Mawr Trust.

Selain itu, pengurangan aset The Fed diperkirakan menghadapi tantangan teknis, terutama terkait regulasi likuiditas perbankan, dan akan membutuhkan waktu untuk diimplementasikan.

Pelaku pasar juga mewaspadai potensi volatilitas suku bunga yang lebih tinggi, mengingat Warsh dinilai berpotensi menjadi figur kontroversial di internal The Fed. (DK)