Hadapi China, 30 negara bergabung bentuk klub mineral kritis

Kamis, 05 Februari 2026

image

JAKARTA - Sekitar 30 negara ingin bergabung dengan klub sekutu dan mitra perdagangan mineral kritis untuk mengurangi ketergantungan pada China, kata Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum dalam sebuah konferensi pada Selasa.Seperti dikutip reuters, Kamis (5/2), Burgum, yang juga memimpin Dewan Dominasi Energi Nasional AS, menyebutkan bahwa negara-negara seperti Jepang, Australia, dan Korea Selatan sudah menjadi anggota klub tersebut."Kami berencana mengumumkan hingga 11 kesepakatan tambahan minggu ini," ujarnya di konferensi Center for Strategic and International Studies.Selain itu, hingga 20 negara lain menunjukkan "minat kuat" untuk bergabung. Klub ini menawarkan perdagangan bebas tarif dan pertukaran mineral, serta menetapkan harga dasar untuk mineral, tambah Burgum."Biasanya, Amerika Serikat adalah pendukung pasar bebas, kami tidak suka campur tangan di pasar. Tapi jika ada pihak dominan yang bisa membanjiri pasar dengan suatu bahan, mereka berpotensi merusak nilai ekonomi perusahaan atau produksi negara lain," jelas Burgum.Washington berupaya menanggulangi apa yang dianggap pembuat kebijakan sebagai manipulasi harga oleh China pada lithium, nikel, rare earth, dan mineral kritis lain yang penting untuk kendaraan listrik, persenjataan canggih, dan elektronik.Presiden Donald Trump pada Senin meluncurkan cadangan strategis mineral yang dikenal sebagai Project Vault, didukung pinjaman US$10 miliar dari U.S. Export-Import Bank dan hampir US$2 miliar modal swasta yang dapat dimanfaatkan perusahaan. Departemen Pertahanan AS juga memiliki cadangannya sendiri.Burgum menekankan bahwa harga dasar yang didukung oleh klub mineral ini akan menarik investasi jangka panjang."Sektor swasta bisa terlibat dan berinvestasi dalam pertambangan dan pemurnian, dengan kepastian adanya pasar dan tanpa khawatir harga jatuh," ujarnya. (DK)