Indonesia hadapi Vietnam jika turun ke Indeks MSCI Frontier Market

Kamis, 05 Februari 2026

image

JAKARTA – Meski otoritas pasar modal mulai membenahi isu transparansi kepemilikan dan free float saham Indonesia, risiko penurunan status Indonesia ke Frontier Market oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) tak dapat disingkirkan begitu saja.

Pengumuman MSCI mengenai potensi pemangkasan bobot saham Indonesia dan risiko downgrade mengguncang pasar modal Indonesia akhir Januari, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles lebih dari 8% hingga memicu trading halt dalam dua hari berturut-turut (28-29/1).

Hal ini memaksa pihak otoritas untuk melancarkan transformasi struktural dalam regulasi pasar modal dan keuangan Indonesia, dengan harapan dapat mempertahankan prospek saham Indonesia di kancah global.

BEI dan MSCI pun telah melakukan pertemuan untuk membahas proposal pembenahan regulasi BEI, yang menghasilkan tiga poin: keterbukaan pemilik saham >1%, penambahan klasifikasi investor BEI dari 9 menjadi 27, serta peningkatan free float secara bertahap.

Namun, implementasi dan kesesuaian langkah-langkah transformasi ini masih terus dikaji oleh MSCI ke depannya.

“Dalam pandangan kami, tentu saja kita tidak bisa sepenuhnya menghapus kemungkinan downgrade. Namun, kami melihat bahwa Indonesia telah melakukan langkah yang tepat untuk mencegah hal tersebut terjadi,” jelas Wiliam Simadiputra, Head of Equity Research DBS Indonesia.

Sebagai catatan, Frontier Market adalah salah satu dari Investment Universes yang ditetapkan MSCI, selevel di bawah Emerging Market—status Indonesia saat ini.

“Sayang sekali jika Indonesia sampai harus turun ke frontier market, karena dari segi konstituen, Indonesia memiliki portofolio perusahaan yang solid, yang menurut kami sangat ‘investable’,” ujar Wiliam dalam acara Media Briefing DBS, Rabu (4/2).

Salah satu anggota ASEAN yang masih tertahan di kelas ini adalah Vietnam. “Saya rasa di frontier market, Vietnam adalah salah satu negara konstituen utamanya,” tambah William.

Menurut data MSCI, Vietnam merajai bobot Indeks MSCI Frontier Market dengan 28,81%. Vingroup JSC – konglomerasi swasta induk VinFast – adalah konstituen paling top dengan kapitalisasi pasar senilai US$12,43 miliar per Januari 2026 lalu.

Selain itu, terdapat dua konstituen lain asal Vietnam dalam daftar top 10 konstituen Indeks MSCI Frontier Market, yaitu Vinhomes JSC – anak usaha Vingroup JSC – dan Hoa Phat Group JSC, dengan kapitalisasi pasar masing-masing US$4,2 miliar dan US$3,89 miliar.

Namun, secara kapitalisasi pasar, IHSG masih lebih tinggi dari VN-Index (VNI). “Dibandingkan pasar Indonesia, kapitalisasi kita hampir dua kali lipat Vietnam,” ungkapnya.

Jika Indonesia sampai turun ke frontier market, lanjut William, maka Indonesia dapat menjadi pesaing baru bagi Vietnam, karena kapitalisasi pasar Indonesia akan menjadi yang tertinggi di kategori tersebut.

Pada akhirnya, selain langkah reformasi pasar modal yang tengah digodok otoritas, perusahaan Indonesia kini disarankan berfokus kepada meningkatkan investabilitas melalui kinerjanya masing-masing.

Di tengah penurunan rating dan bobot saham Indonesia oleh para manajer investasi global, Hou Wey Fook, Chief Investment Officer DBS Bank, menegaskan bahwa Bank DBS tetap memberikan “overweight” kepada Indonesia.

“Alasan kami memberikan overweight pada Indonesia adalah, selain karena valuasinya, kami percaya perdagangan komoditas adalah alasan yang paling jelas. Kami menyukai Indonesia karena itu,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Selain harga komoditas dan potensi ekspor sumber daya alam yang tinggi, dari segi komposisi masyarakat, DBS menilai bahwa komposisi middle class yang besar di Indonesia dapat menjadi bensin bagi tingkat konsumsi masyarakat. (ZH)