Yen Jepang terus melemah, investor antisipasi kebijakan PM Takaichi

Kamis, 05 Februari 2026

image

JAKARTA - Yen Jepang terus melemah, terdorong kekhawatiran meningkat terkait kesehatan keuangan negara.Dengan Perdana Menteri baru menjelang pemilu, investor bersiap menghadapi kemungkinan pergeseran kebijakan yang dapat mengguncang pasar.Seperti dikutip reuters.com, tekanan terbaru mulai terlihat pada Oktober, saat Sanae Takaichi, dikenal sebagai pendukung kebijakan fiskal longgar, menjadi perempuan pertama yang menjabat Perdana Menteri Jepang.Langkah ini memicu penilaian ulang atas arah ekonomi negara. Pedagang mulai mengambil posisi net short, menyerah pada taruhan besar tahun lalu yang memperkirakan yen akan menguat.Sepanjang 2000-an, yen bergerak di kisaran 100-120 per dolar AS.Nilai tukar ini sempat naik akibat lonjakan biaya impor energi setelah perang di Ukraina, saat kebijakan moneter Jepang berbeda jauh dari Federal Reserve AS. Kini, level 160 per dolar menjadi ambang psikologis yang diyakini banyak pelaku pasar dapat memicu intervensi pemerintah.Jika dilihat secara riil, yen telah kehilangan lebih dari 30% nilainya sejak 2020, dibandingkan dengan sekeranjang mata uang mitra dagang, setelah disesuaikan inflasi.Jepang adalah negara maju dengan utang tertinggi, melebihi 200% dari PDB.Meskipun demikian, Takaichi berjanji memperbaiki kondisi ini melalui stimulus ekonomi dan pertumbuhan yang melampaui kewajiban negara.Ironisnya, pelemahan yen terjadi bersamaan dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang ke level tertinggi, yang seharusnya justru mendukung nilai mata uang. (DK)