IHSG hadapi tekanan baru dari Moody’s, setelah Goldman dan UBS
Jumat, 06 Februari 2026

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi kembali menghadapi sentimen negatif, setelah lembaga pemeringkat internasional Moody’s menurunkan outlook Indonesia dari positif menjadi negatif.
Dalam publikasi yang disampaikan Kamis (5/2) kemarin, Moody’s tetap mengafirmasi peringkat utang senior jangka panjang Indonesia dan Medium Term Notes (MTN) pada level Baa2.
“Perubahan outlook itu akibat proses pengambilan kebijakan pemerintah yang lebih susah diprediksi, yang berisiko melemahkan efektivitas kebijakan dan menunjukkan lemahnya tata kelola pemerintah,” jelas Moody’s.
Menanggapi penurunan outlook tersebut, analis Phintraco Sekuritas menilai langkah Moody’s berisiko membuat pasar saham Indonesia kembali menghadapi tekanan.
“Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi menguji level support di 8.000,” jelas analis Phintraco, dalam catatan yang disampaikan hari ini.
Seperti disampaikan IDNFinancials.com sebelumnya, IHSG tutup di level 8.103,88 pada perdagangan Kamis (5/2) kemarin, melemah 0,53% akibat sentimen negatif dari kawasan Asia dan penurunan harga emas.
Sebelum Moody’s menurunkan outlook peringkat Indonesia, sejumlah institusi global juga telah mengambil langkah serupa.
Goldman Sachs merevisi peringkat saham Indonesia ke level underweight, menyusul kekhawatiran dari penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI), terhadap kelayakan investasi dan transparansi pasar saham Indonesia.
Bank investasi asal Swiss, UBS, juga mengambil langkah serupa dan menempatkan saham Indonesia di level netral.
Akibat keputusan MSCI dan pemangkasan peringkat sejumlah institusi global itu, pasar saham menghadapi tekanan beruntun hingga membuat perdagangan dihentikan (trading halt) sebanyak 2 kali.
IHSG pun mencatat performa terburuk dibanding indeks saham lain di kawasan Asia, dengan penurunan lebih dari 6% sejak awal tahun. (KR)