Deutsche Bank: Keyakinan investor terhadap bicoin perlahan memudar

Jumat, 06 Februari 2026

image

JAKARTA – Bank asal Jerman, Deutsche Bank (DB), menyatakan bahwa penurunan terbaru harga bitcoin (BTC) lebih disebabkan oleh pengikisan kepercayaan yang berlangsung perlahan di kalangan institusi dan regulator, ketimbang satu guncangan makroekonomi tunggal.

Dalam catatan riset yang dirilis Rabu, seperti dikutip Coindesk.com, Rabu (5/2), Deutsche Bank menilai ada tiga faktor utama yang menekan bitcoin:

  1. Arus keluar institusional yang berkelanjutan,

  2. Rusaknya hubungan tradisional bitcoin dengan pasar keuangan, dan

  3. Hilangnya momentum regulasi yang sebelumnya menopang likuiditas dan menekan volatilitas.

Menurut laporan itu, fase saat ini lebih mencerminkan proses penyesuaian ulang (reset) ketimbang kehancuran pasar. Ini menjadi ujian apakah bitcoin mampu berkembang melampaui kenaikan harga yang semata didorong oleh spekulasi, serta kembali memperoleh dukungan dari regulasi dan modal institusional.

“Meski penurunan harga bitcoin belakangan tampak tajam jika dibandingkan sejarah jangka panjangnya, pergerakan ini mencerminkan koreksi dari lonjakan spekulatif tinggi selama dua tahun terakhir, yang menunjukkan bahwa bitcoin masih memiliki ruang untuk matang,” tulis analis Marion Laboure dan Camilla Siazon.

Meski lama dikenal sebagai “emas digital”, kinerja bitcoin tahun ini menyimpang tajam dari aset lindung nilai tradisional. Ketika harga emas melonjak—naik lebih dari 60% sepanjang 2025 didorong oleh pembelian bank sentral dan permintaan aset aman—bitcoin justru kesulitan bangkit, mencatat beberapa penurunan bulanan dan berkinerja lebih buruk dibandingkan aset berisiko utama. Korelasinya dengan saham maupun emas melemah, sehingga BTC semakin terisolasi saat pasar global mulai stabil.

Sejak mencapai puncaknya pada Oktober 2025, pasar kripto memasuki fase penurunan berkepanjangan. Harga bitcoin telah merosot lebih dari 40% dari level tertingginya dan mencatat empat bulan penurunan berturut-turut, rekor terburuk sejak sebelum pandemi. Berbeda dengan koreksi sebelumnya yang dipicu faktor makro, penurunan kali ini terjadi di tengah pemulihan pasar saham dan emas, menandakan melemahnya permintaan dan momentum.

Tekanan pertama datang dari aksi jual institusional. Exchange-traded fund (ETF) bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus keluar besar dan berkelanjutan sejak Oktober, termasuk lebih dari US$7 miliar pada November, sekitar US$2 miliar pada Desember, dan lebih dari US$3 miliar pada Januari. Ketika institusi mengurangi eksposur, volume perdagangan menipis, membuat bitcoin lebih rentan terhadap fluktuasi harga tajam.

Data sentimen memperkuat tren ini. Crypto Fear & Greed Index kembali mendekati level “ketakutan ekstrem”, sementara survei internal Deutsche Bank menunjukkan tingkat adopsi kripto konsumen AS turun menjadi 12%, dari 17% pada pertengahan 2025, menandakan meredupnya antusiasme di luar Wall Street.

Analis juga menyoroti tekanan kedua,  semakin jauhnya bitcoin dari jangkar pasar yang selama ini dikenal. Bitcoin bergerak berlawanan arah dengan emas, yang naik 65% sepanjang 2025, sementara bitcoin turun 6,5%, melemahkan narasi “emas digital”. Korelasi bitcoin dengan pasar saham juga turun ke kisaran belasan persen, jauh lebih rendah dibandingkan periode koreksi makro sebelumnya ketika bitcoin biasanya bergerak seiring saham teknologi.

Ketidakpastian regulasi menjadi tekanan ketiga. Pembahasan Digital Asset Market CLARITY Act yang bersifat bipartisan di Kongres AS dilaporkan terhenti akibat perbedaan pandangan terkait ketentuan stablecoin. Deutsche Bank menilai stagnasi ini telah membalikkan perbaikan stabilitas pasar sebelumnya, terlihat dari volatilitas 30 hari bitcoin yang kembali melonjak di atas 40%, mendekati level akhir Oktober.

Meski demikian, Deutsche Bank mengingatkan agar penurunan ini tidak ditafsirkan berlebihan. Bahkan setelah koreksi, harga bitcoin masih sekitar 370% lebih tinggi dibanding awal 2023, menandakan besarnya premi spekulatif yang terbentuk selama reli sebelumnya.

Sementara itu, Citi, bank Wall Street, menyebut bahwa bitcoin kini diperdagangkan di bawah level biaya utama ETF dan mendekati batas harga terendah pra-pemilu, seiring memudarnya arus masuk dana ke instrumen tersebut dan meningkatnya tekanan pasar, menurut catatan untuk klien pada Selasa. (DK)