Aster siap operasikan CSU semester II 2026, kapasitas naik 70 ribu bph
Jumat, 06 Februari 2026

JAKARTA - Aster Chemicals and Energy mempercepat ekspansi bisnis kilang di Singapura dengan menuntaskan sejumlah proyek strategis pada paruh kedua tahun ini.
Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menekan biaya impor minyak melalui penggunaan kapal tanker raksasa.
Perusahaan patungan Grup Chandra Asri dan Glencore itu terus memperkuat daya saing sejak mengakuisisi kilang Bukom dan aset petrokimia dari Shell pada April tahun lalu.
Dikutip reuters, salah satu proyek utama adalah pengoperasian condensate splitter unit (CSU) berkapasitas 70.000 barel per hari (bph), menjadikan total kapasitas pengolahan Aster naik menjadi 307 ribu barel per hari.
Dibeli dari Petrochemical Corp of Singapore (PCS) pada Juni 2025 lalu, fasilitas ini diproyeksi akan mulai beroperasi pada semester II 2025, dan mampu mengolah hingga 30% kondensat asam dari jaringan pasokan global Glencore.
Menurut Andre Khor, Chief Financial Officer (CFO) Aster, setelah CSU beroperasi penuh, maka Aster dapat meningkatkan produksi etilena dari cracker Bukom untuk dipasok ke kompleks petrokimia Chandra Asri di Cilegon.
Di sisi logistik, perusahaan memperbaiki fasilitas single buoy mooring (SBM) agar dapat menerima Very Large Crude Carriers (VLCC) yang mampu membongkar hingga dua juta barel minyak per pengiriman.
Selama ini, pasokan minyak mentah masih menggunakan kapal yang lebih kecil dari Timur Tengah, Malaysia, dan Brasil.
“Dengan berinvestasi pada satu tambatan pelampung, kami dapat mendatangkan kapal yang lebih besar yang kami yakini akan lebih murah dan lebih kompetitif,” kata Andre Khor, pada Reuters.
Ekspansi juga mencakup akuisisi dan renovasi jaringan SPBU Esso di Singapura oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), serta optimalisasi 4,3 juta meter kubik kapasitas tangki penyimpanan untuk disewakan atau dimonetisasi.
Di sektor energi, Aster berencana meningkatkan pasokan listrik rendah karbon melalui pemasangan panel surya di Pulau Bukom dan Jurong, dan tengah menyiapkan keputusan investasi akhir untuk proyek turbin gas senilai US$150 juta yang dapat menggunakan hidrogen pada 2029.
Terlepas dari serangkaian agenda ekspansi tersebut, Khor mengakui industri penyulingan dan bahan kimia masih menghadapi tekanan.
“Saat ini masih merupakan masa yang penuh tantangan bagi industri penyulingan dan kimia, oleh karena itu kita perlu berinvestasi dan mampu menghasilkan semua kredit ini yang dapat meningkatkan laba bersih kita dengan cepat untuk membuat unit-unit tersebut lebih tangguh,” ujarnya.
Tekanan juga datang dari kebijakan Singapura yang akan menaikkan pajak karbon bagi pelaku usaha beremisi tinggi menjadi S$45 per ton. Secara global, tingkat operasi kilang masih relatif tinggi di kisaran 80–90%, sedangkan utilisasi pabrik kimia hanya 70–80%.
Pemulihan sektor petrokimia diperkirakan baru terjadi pada 2027–2028 seiring konsolidasi industri di Korea Selatan dan China. (DH/ZH)