Indonesia ingin lepas dari dampak MSCI? Intip strategi India

Jumat, 06 Februari 2026

image

JAKARTA - Ancaman penurunan peringkat oleh MSCI telah menyeret pasar saham Indonesia ke dalam kejatuhan terdalam dalam satu generasi.

Namun bagi investor dan pembuat kebijakan, krisis ini sekaligus memperjelas satu jalan keluar potensial, meniru transformasi India dari pasar yang terbelenggu masalah struktural menjadi salah satu bintang pasar berkembang dunia.Seperti dikutip BusinessTimes, Rabu (5/2) Indonesia kini berupaya bangkit setelah mendapat peringatan berisiko diturunkan ke status pasar frontier, langkah yang dapat membuat negara ini tersingkir dari radar banyak investor global.

Masalah utama yang sudah lama membayangi, rendahnya free float dan tipisnya likuiditas, terus menggerus daya tarik pasar.

Investor menilai, jika dua isu ini dibenahi, Indonesia berpeluang mengalami re-rating besar, dengan India sebagai preseden yang jelas.“Ikuti saja persis apa yang dilakukan India. Pasar mereka meledak.” kata John Foo, Pendiri Valverde Investment Partners yang fokus di Asia Tenggara. India, yang kini menjadi favorit investor pasar berkembang berkat lonjakan saham, rekor IPO, dan membesarnya basis investor ritel, menghadapi tantangan serupa pada 2010.

Saat itu, otoritas bergerak mengatasi kekhawatiran soal dominasi pemegang saham pengendali, keterbatasan saham beredar, serta ketergantungan pasar pada arus dana jangka pendek.Inti reformasi India adalah aturan kepemilikan publik minimum 25% bagi perusahaan tercatat. Emiten yang belum memenuhi ambang batas diwajibkan menaikkan free float setidaknya 5% per tahun, sementara perusahaan baru diberi waktu tiga tahun untuk patuh.

Aturan ini diperkuat dengan peningkatan transparansi dan perluasan akses bagi investor asing.Langkah-langkah tersebut menjadi fondasi revaluasi bersejarah. Sejak 2010, India menarik arus modal asing senilai US$1,25 triliun, membangun salah satu basis investor ritel terbesar di dunia, dan mengukuhkan diri sebagai alokasi inti pasar berkembang, sebuah cetak biru potensial bagi Indonesia dalam menghadapi ujian kredibilitas pasar.“Dalam jangka menengah hingga panjang, aturan free float dan transparansi yang lebih kuat cenderung memperluas universe investasi, menurunkan premi risiko, dan menarik modal yang lebih berkelanjutan,” ujar Djumala Sutedja, Direktur investasi BNP Paribas Asset Management di Jakarta.Indonesia sendiri mulai mengadopsi sebagian strategi tersebut dengan rencana penerapan ketentuan free float minimum 15% yang ditargetkan berlaku pada Maret.

Namun keberhasilannya sangat bergantung pada respons sektor korporasi, yang banyak dikuasai keluarga kaya, dengan reaksi yang sejauh ini beragam.

Setidaknya satu taipan memilih melakukan buyback saham, langkah yang menopang harga, tetapi justru mengurangi free float.Di India, salah satu kunci keberhasilan adalah mekanisme Offer for Sale, yang memungkinkan pelepasan saham secara terkontrol, transparan, dan berbasis bursa.

Pada periode 2012–2016, pendiri 187 perusahaan India menjual saham senilai satu triliun rupee (sekitar S$14 miliar) melalui skema ini, sementara investor asing menanamkan 3,76 triliun rupee di pasar saham India.Di Indonesia, sinyal dari investor institusi lokal menunjukkan potensi minat terhadap mekanisme serupa. Meski mendukung upaya peningkatan free float, mereka mengingatkan agar implementasinya tidak tergesa-gesa.“Mereka perlu memberi waktu yang cukup bagi korporasi untuk patuh tanpa menciptakan pasar yang tidak tertib,” kata Jeffrosenberg Chen Lim, kepala riset Maybank Sekuritas di Kuala Lumpur.

Tenggat yang terlalu sempit, ujarnya, berisiko memicu banjir penjualan saham yang melampaui permintaan.Bagi India, peningkatan free float juga dibarengi reformasi yang lebih luas.

Pemerintah melonggarkan pembatasan investasi asing di berbagai sektor, dari pertahanan hingga konstruksi, dan akhirnya mengizinkan kepemilikan asing 100% melalui jalur otomatis di bidang seperti pertambangan batu bara, manufaktur kontrak, dan perantara asuransi.

Pengalaman India itu kini menjadi cermin bagi Indonesia, apakah krisis ini akan berakhir sebagai kemunduran permanen, atau justru menjadi titik awal reli besar berikutnya. (DK)