Moody’s turunkan outlook Indonesia, yield SUN naik dekati 6%

Jumat, 06 Februari 2026

image

JAKARTA - Pasar uang Indonesia tertekan setelah Moody’s menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Sentimen tersebut memicu aksi jual di obligasi, saham, dan rupiah pada perdagangan Jumat (6/2).

Data Bloomberg menunjukkan imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) naik hampir di seluruh tenor.

Yield SUN dengan tenor 1 tahun meningkat 3,7 basis poin mendekati 5%, tenor 2 tahun jadi 5,08%, dan tenor 3 tahun jadi 5,4%. Kenaikan terbesar terjadi pada tenor 4 dan 5 tahun yang melonjak masing-masing 8,7 bps dan 11 bps ke kisaran 5,8% atau mendekati 6%.

Seperti diketahui kenaikan SUN mencerminkan penurunan harga obligasi di pasar sekunder, karena yield bergerak berlawanan arah dengan harga. Kondisi ini terjadi ketika investor meminta tingkat imbal hasil yang lebih tinggi untuk memegang obligasi, seiring meningkatnya persepsi risiko dan ketidakpastian pasar. Yield yang naik juga berarti biaya pendanaan pemerintah berpotensi meningkat apabila penerbitan utang baru dilakukan pada level imbal hasil yang lebih tinggi, serta menjadi indikator pengetatan kondisi keuangan di pasar domestik.

 

Tekanan ini memperpanjang pelemahan pasar dalam dua pekan terakhir setelah sebelumnya MSCI serta sejumlah bank global menurunkan penilaian terhadap Indonesia.

Dikutip bloombergtechnoz, Moody’s menyebut alasan penurunan outlook karena menurunnya prediktabilitas dalam perumusan kebijakan, yang berisiko melemahkan efektivitas kebijakan serta mengindikasikan pelemahan tata kelola. Meski demikian, lembaga tersebut tetap mempertahankan peringkat Indonesia di level Baa2 atau dua tingkat di atas non-investment grade.

Sementara itu, realisasi pajak 2025 mencapai Rp1.917,6 triliun atau 87,6% dari target APBN, menimbulkan shortfall Rp271,7 triliun dan mendorong defisit anggaran melebar menjadi 2,92% dari PDB.

Di pasar saham, Jakarta Composite Index (JCI) turun hampir 3% dan telah melemah 4,7% sepanjang pekan ini, sementara kapitalisasi pasar menyusut sekitar US$120 miliar sejak awal tahun. Rupiah turut terdepresiasi 0,36% ke sekitar Rp16.885 per dolar AS, dengan investor asing mencatat penjualan bersih sekitar US$860 juta saham dalam beberapa hari terakhir.

Pemerintah membantah risiko penurunan peringkat tersebut. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, “Tidak ada alasan kuat untuk menurunkan peringkat,” seraya menyebut fundamental ekonomi tetap kuat dan defisit masih terkendali.

Namun pelaku pasar melihat langkah Moody’s sebagai peringatan. Seperti dikutip Reuters, Ekonom OCBC mengatakan, “Penurunan prospek Moody’s adalah tembakan peringatan, yang dapat memicu lembaga pemeringkat lain mengikuti langkah serupa, terutama jika proses kebijakan masih diselimuti ketidakpastian tinggi.”

Ekonom itu menambahkan: "Respons otoritas akan diawasi ketat dalam setahun ke depan."

Menurut Analis Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, dampak utama terhadap pasar Indonesia adalah meningkatnya premi risiko di berbagai kelas aset, yang berpotensi menekan obligasi jangka panjang, saham BUMN, perbankan besar, serta sentimen rupiah.

Sementara itu, S&P dan Fitch masih mempertahankan prospek stabil, meski S&P mengingatkan pelemahan fiskal dapat memberi tekanan tambahan pada peringkat. Hingga kini, upaya stabilisasi belum terlihat meredakan gejolak pasar.(DH/MT)

Baca Juga: Peringkat Moody’s Baa2 tetap aman?