Lini bisnis emas BRIS subur, total pembiayaan melonjak 14,5%

Jumat, 06 Februari 2026

image

JAKARTA – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) membukukan lonjakan pembiayaan hingga 14,49% secara tahunan pada tahun buku 2025 mencapai Rp318,84 triliun, didukung pembiayaan konsumen, terutama lini bisnis emas.

Berdasarkan Corporate Presentation BRIS yang dipublikasikan Jumat (6/2), segmen konsumen masih menjadi penopang pembiayaan yang utama dengan total penyaluran Rp175,79 triliun – atau 55,13% dari total pembiayaan 2025.

Sebagai bank bullion pertama di Indonesia, BRIS mendulang pertumbuhan yang signifikan di tengah euforia emas, terutama dalam bentuk emas batangan (bullion), yang kian diburu dan populer sebagai investasi di masyarakat.

Pasalnya, tumpuan utama lonjakan segmen konsumen ini berasal dari lini bisnis pembiayaan emas BRIS, yang terdiri dari cicilan dan gadai emas.

Meski hanya mewakili 7,2% dari total kredit, pembiayaan emas meroket hingga 78,6% secara tahunan menjadi Rp22,91 triliun pada tahun 2025.

Cicilan emas melesat 101,23%, sedangkan gadai emas naik 56,05%.

Aktivitas pembiayaan emas ini sejalan dengan peningkatan jumlah nasabah pembiayaan emas yang mencapai 680,51 ribu nasabah, atau naik 39,62%.

Jumlah nasabah layanan emas digital – melalui aplikasi mobile banking BYOND by BSI – bahkan melonjak 417,38% menjadi 531,33 ribu per akhir 2025 lalu.

Digitalisasi pembiayaan ini, menurut Perseroan, menjadi salah satu pendorong efisiensi dan pertumbuhan fee-based income BRIS.

Sebagai catatan, lini bisnis pembiayan emas juga mulai menjadi kontributor untuk fee-based income BRIS. Meski hanya setara 3,91% dari total fee-based income tahun 2025, lini pembiayaan emas menyumbang Rp270 miliar.

Selain segmen konsumen dan emas, pembiayaan wholesale (korporat dan komersial) juga naik 17,59% menjadi Rp90,8 triliun, diikuti pembiayaan UMKM yang naik hanya 5,83% menjadi Rp52,26 triliun.

Pertumbuhan pembiayaan mendorong pendapatan bersih naik 9,92% menjadi Rp19,04 triliun, dengan laba bersih yang turut tumbuh 8,02% menjadi 7,57 triliun.

Dari segi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) BRIS juga masih berkembang positif, naik 16,20% menjadi Rp380,49 triliun, dengan rasio CASA 61,62%.

Masih merujuk pada Corporate Presentation BRIS, untuk tahun 2026, BRIS juga menargetkan kredit tumbuh di kisaran 14-16% — sama dengan target tahun 2025, dengan cost-of-credit terjaga di bawah 1%. (ZH)