India pemegang emas terbesar di dunia, mengapa?

Sabtu, 07 Februari 2026

image

JAKARTA -- Rumah tangga India menjadi pemilik emas terbesar di dunia. World Gold Council (WGC) mencatat kepemilikan emas rumah tangga India, termasuk yang disimpan di kuil-kuil, mencapai sekitar 25.000 ton dengan nilai sekitar US$2,4 triliun.

Nilai tersebut setara hampir 56% dari proyeksi PDB nominal India pada 2026, menegaskan besarnya peran emas dalam struktur kekayaan domestik negara tersebut.

Dikutip dari Economic Times, skala kepemilikan ini jauh melampaui ukuran ekonomi banyak negara lain. Berdasarkan estimasi IMF untuk FY25, PDB Pakistan sekitar US$411 miliar, sehingga nilai emas rumah tangga India hampir enam kali lebih besar. Bahkan, total emas yang dimiliki masyarakat India juga melebihi PDB negara maju seperti Italia dan Kanada.

UBS mencatat lonjakan kekayaan rumah tangga India sejalan dengan harga emas yang telah berlipat ganda sejak FY20. Bank tersebut memperkirakan harga emas dapat naik hingga US$3.500 per ons pada 2026, didorong ketidakpastian global seperti ketegangan geopolitik, inflasi, dan konflik perdagangan.

Meski volume permintaan emas diproyeksikan melemah pada 2026, nilai impor emas India diperkirakan tetap tinggi di kisaran US$55–60 miliar, atau sekitar 1,2% dari PDB.

Pada FY25, permintaan emas domestik tetap kuat di tengah harga tinggi. Permintaan konsumen mencapai 782 ton, sekitar 15% di atas rata-rata pra-pandemi. Permintaan perhiasan sedikit melemah, namun investasi ritel pada emas batangan dan koin melonjak 25% secara tahunan, didorong penurunan bea masuk emas pada pertengahan 2024.

Ke depan, UBS memperkirakan permintaan emas India turun menjadi 725 ton pada FY26, sebelum pulih ke 800 ton pada FY27. Pemulihan ini berpotensi ditopang oleh rencana kenaikan gaji aparatur negara melalui Komisi Gaji Pusat ke-8, yang secara historis mendorong peningkatan tabungan fisik, termasuk emas.

Meski kepemilikan emas sangat besar, pemanfaatannya sebagai sumber pembiayaan masih terbatas. UBS mencatat kurang dari 2% emas rumah tangga digunakan sebagai jaminan pinjaman, meskipun lembaga keuangan seperti Bajaj Finance, Shriram Finance, dan Chola mulai memperluas kredit berbasis emas. Program pemerintah seperti Gold Monetization Scheme dan Sovereign Gold Bonds (SGB) juga dinilai belum efektif, bahkan penerbitan SGB dihentikan pada Februari 2024.

Besarnya peran emas dalam kekayaan rumah tangga India tidak terlepas dari faktor budaya dan keagamaan, khususnya Diwali, festival cahaya yang menjadi salah satu perayaan terpenting dalam kalender Hindu. Diwali secara tradisional diasosiasikan dengan kemakmuran, keberuntungan, dan awal baru, sehingga pembelian emas, baik sebagai perhiasan maupun investasi—dianggap membawa berkah dan stabilitas finansial.

Hal ini tercermin pada perayaan Diwali terbaru, ketika masyarakat India justru lebih banyak membeli emas batangan dan koin dibandingkan perhiasan tradisional. Data India Bullion and Jewellers Association (IBJA) dan All India Gem and Jewellery Domestic Council (GJC) menunjukkan belanja emas selama lima hari Diwali mencapai Rs700 miliar hingga Rs1 triliun (sekitar US$8–11 miliar). Dalam dua hari pertama saja, lebih dari 40 ton emas berpindah tangan, menandakan pergeseran preferensi dari perhiasan ke instrumen investasi.

Penjualan perhiasan dilaporkan turun sekitar 30% secara tahunan, sementara permintaan emas batangan dan koin melonjak tajam. Peritel besar seperti Tanishq bahkan memperingatkan potensi kelangkaan koin dan batangan emas akibat lonjakan permintaan.

Tren ini memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai utama bagi masyarakat India, seiring lonjakan harga emas global dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia.

Dengan sekitar 14% stok emas swasta dunia, India tetap menjadi pemegang emas rumah tangga terbesar secara global. Di tengah gejolak ekonomi dan geopolitik, emas terus menjadi penopang utama kekayaan masyarakat India. (DH)