Tekanan Amerika gagal, ekspor minyak Rusia ke China cetak rekor

Minggu, 08 Februari 2026

image

JAKARTA - Ekspor minyak mentah Rusia justru mencatat rekor baru ke China meski Amerika Serikat berupaya menekan pendapatan energi Moskow melalui kebijakan perdagangan dan sanksi. Data terbaru menunjukkan China kini menjadi pasar utama sekaligus penopang terbesar ekspor minyak Rusia.

Dikutip oilprice, pada Januari 2026, pengiriman minyak Rusia ke China melalui jalur laut mencapai 1,86 juta barel per hari (bph), tertinggi sepanjang sejarah.

Seluruh ekspor jenis ESPO diarahkan ke pasar China, dengan lebih dari separuh volume dimuat dari pelabuhan Kozmino dan Sakhalin. Bahkan tanpa menghitung pasokan pipa, volume tersebut 46% lebih tinggi dibanding ekspor Arab Saudi ke China.

Daya tarik utama datang dari harga yang lebih murah. Minyak Rusia diperdagangkan dengan diskon sekitar US$7 per barel dibandingkan Brent, sementara Moskow menanggung sebagian besar biaya logistik, asuransi, dan risiko geopolitik. Skema ini membuat kilang-kilang China memperoleh pasokan murah sekaligus stabil.

Faktor geopolitik turut mendorong pergeseran ini. Ketidakpastian pasokan dari Venezuela dan Iran akibat tekanan sanksi Barat membuat China mencari sumber energi yang lebih aman dan dekat secara geografis. Rusia dinilai memenuhi kriteria tersebut, apalagi terminal Kozmino hanya berjarak sekitar lima hingga enam hari pelayaran dari pelabuhan China.

Ketergantungan ini semakin kuat dengan beroperasinya kilang baru Shandong Yulong berkapasitas 400 ribu bph, yang kini hampir sepenuhnya mengandalkan minyak Rusia setelah akses ke pasokan Barat dan Timur Tengah tertutup sanksi. Sejak akhir 2025, kilang tersebut secara konsisten mengimpor ratusan ribu barel per hari dari Rusia.

Di sisi lain, tekanan Washington terhadap India agar menghentikan impor minyak Rusia berpotensi memicu dampak sebaliknya. India dikhawatirkan justru kembali memperkuat kerja sama energi dengan Moskow demi menjaga kepentingan strategis dan keamanan pasokan.

Perkembangan ini menunjukkan upaya AS untuk membatasi pendapatan energi Rusia belum efektif. Alih-alih terisolasi, Rusia justru memperdalam kemitraan energi dengan China, membentuk poros pasokan baru di Eurasia. China pun muncul sebagai pihak yang paling diuntungkan karena memperoleh minyak dalam jumlah besar dengan harga lebih kompetitif, sementara arus perdagangan hanya berubah rute, bukan terhenti.(DH)